foto

autodesk.com

Autodesk Tawarkan Geospasial 3D untuk Penanganan Bencana  

TEMPO.CO, Jakarta - Sebelumnya, istilah geospasial hanya diidentikkan dengan pemetaan dan juga kontur permukaan bumi. Namun dengan kemajuan teknologi saat ini, data geospasial berupa Graphical Information System (GIS) dapat diintegrasikan dengan Building Information Modelling (BIM), yang dapat digunakan untuk keperluan pembangunan infrastruktur, hingga penanganan bencana.

BIM merupakan teknologi yang membawa perubahan pada kinerja arsitek, membantu mengeksplorasi proyek pembangunan secara digital, dan merepresentasikannya dalam bentuk 3 dimensi. Ini mengakibatkan bentuk nyata sebuah bangunan dapat terlihat bahkan sebelum dibagun.

"Data yang ada akan disatukan dengan software, yang akan menerjemahkan data tersebut dalam bentuk 3D," ujar Geoff Zeiss, Directory Utility Industry Program Autodesk, dalam diskusi yang diselenggarakan di Jakarta, Senin, 17 Oktober 2011.

Metode ini dapat diterapkan dalam pembangunan infrastruktur secara luas, seperti jalan, elektrik dan gas, perairan, hingga telekomunikasi.

Dengan menggabungkan data GIS dengan BIM ini, Geoff mengatakan proses perencanaan proyek infrastruktur dapat berjalan secara lebih maksimal karena bersumber pada data di lapangan yang bersifat akurat.

"Keakuratannya mencapai tingkat milimeter," ujarnya. Perencanaan yang akurat juga menghindarkan kemungkinan adanya masalah teknis yang berkaitan dengan kondisi geografis yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Selain itu, dengan metode ini juga mempermudah pembuatan desain infrastruktur, karena pelaksana pembangunan dapat memperkirakan banyak hal yang berkaitan dengan proyek yang dibuatnya, termasuk perkiraan biaya yang akan dihabiskan.

Salah satu kelebihan metode ini adalah menggunakan teknologi 3D dalam bahasa visual, yang mempermudah siapapun, termasuk golongan non-teknis untuk memiliki bayangan terhadap desain infrastruktur yang akan dibangun.

"Tampilan yang dibuat sangat menarik untuk dilihat, seperti game, namun sangat realistis. Ini tentu sangat berguna bila ditunjukkan pada golongan non-teknis namun merupakan penentu kebijakan, seperti politisi," ujar Zeiss melanjutkan.

Tidak hanya berguna pada pembangunan infrastruktur, metode ini juga dapat diterapkan sebagai antisipasi bencana, misalnya dengan memberi gambaran daerah mana saja yang beresiko terpengaruh bencana banjir.

Kanada saat ini sudah melakukan pemetaan geospasial 3D untuk perencanaan pembangunan infrastruktur serta pengelolaan tata wilayah untuk seluruh wilayahnya. "Diperlukan waktu sepuluh tahun untuk hal ini, termasuk mengumpulkan data. Masih diperlukan lima tahun ke depan untuk menyempurnakan," ujarnya.

Zeiss memandang Indonesia perlu mempertimbangkan penerapan metode ini karena dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti saat ini, pembangunan infrastruktur sangat penting dilakukan.

"Masalahnya, data yang dimiliki masing-masing kementerian mengenai kondisi Indonesia terpecah berdasarkan spesialisasinya," ujarnya. Data ini sebaiknya disatukan untuk memberi gambaran yang utuh mengenai kondisi negara saat ini, untuk mempermudah pembangunan infrastruktur yang tepat guna.

Autodesk sendiri telah memiliki software khusus yang mampu memproses dan mengintegrasikan data GIS dengan BIM, yaitu AutoCAD Map 3D.

Solusi arsitektur yang ditawarkan Autodesk meliputi Autocad Map 3D untuk perencanaan tata ruang, Autocad Map 3D untuk listrik dan gas, Autocad Map 3D untuk untuk perairan, pengelolaan limbah dan banjir, Autocad Map 3D untuk pemerintahan, dan Autocad Map 3D untuk telekomunikasi.

RATNANING ASIH