foto

TEMPO/Amston Probel

Impor Bahan Mentah Ancam Neraca Pembayaran

TEMPO.CO, Jakarta -Ketergantungan industri pada bahan baku impor akan menjadi persoalan kritis untuk Neraca Pembayaran Indonesia dalam jangka panjang. "Sebab, sekarang banyak produk ekspor dengan konten impor yang tinggi. Sehingga jika ekspor naik, maka impor juga akan meningkat," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman Hadad di Jakarta, Senin, 17 Oktober 2011.

Jika permintaan barang konsumsi naik, bisa jadi juga meningkatkan impor. "Jadinya tidak menguntungkan," kata dia. Masalah ini antara lain disebabkan lemahnya industri di sektor hulu.



Negara berkembang, menurut Muliaman, kerap mengalami hal ini. Cina misalnya,
sekitar 60 persen ekspornya bergantung pada impor dari luar negeri.



Bank Indonesia meminta kementerian perindustrian memperkuat sektor hulu. "Tapi, masalah ini tidak mungkin selesai dalam 1-2 tahun, karena kita membangun industri," kata dia.

Meski ada masalah yang perlu diwaspadai, tahun ini neraca pembayaran masih surplus hingga 2012. Muliaman belum menyebut berapa besaran perkiraan surplus tersbeut.

Berdasarkan data BI, surplus NPI pada triwulan II 2011 sebesar US$ 11,9 miliar. Nilai itu mengalami peningkatan yang cukup tajam dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu US$ 7,7 miliar.

Kenaikan surplus didorong lonjakan surplus transaksi modal dan finansial yang melampaui penurunan surplus transaksi berjalan. Transaksi berjalan sendiri masih ditopang kenaikan ekspor nonmigas dan gas dengan surplus US$ 200 juta.

EKA UTAMI APRILIA