foto

Beras Impor. Tempo/Zulkarnain

Pedagang Waspada Kenaikan Harga Beras Thailand  

TEMPO.CO, Bangkok - Asosiasi Eksportir Beras Thailand (TREA) mengecam kebijakan partai penguasa Pheu Thai yang memungkinkan petani mengijonkan seluruh hasil panen mereka. Pemerintah menetapkan harga 15 ribu baht atau US$ 500 per ton untuk beras putih dan 20 ribu baht atau US$ 660 untuk beras wangi atau hom mali.

Kepada harian Bangkok Post, Senin, 17 Oktober 2011, Wakil Presiden Asosiasi, Charoen Laothamatas, mengatakan jika program itu dihidupkan kembali, harga beras on-board jenis hom mali mencapai US$ 1.400 per ton. Bahkan lebih tinggi ketimbang harga basmati, beras India yang saat ini termahal di dunia.

"Jika eksportir Thailand tidak bisa membeli beras untuk ekspor, mereka dapat memilih beras yang harganya jauh lebih murah dari Vietnam, Kamboja, atau Burma. Mereka harus mempertahankan basis pasar dan pelanggan mereka," kata Charoen. "Dengan skema perjanjian pasa bebas ASEAN, alternatif itu memungkinkan."

Eksportir beras dan pabrikan asal Negeri Gajah Putih sudah mendirikan perusahaan perdagangan atau kantor perwakilan di Kamboja dan Vietnam untuk membeli beras. "Kita harus mengakui bahwa kualitas beras asal Vietnam semakin meningkat," ujar Charoen.

Beras wangi Vietnam dijual US$ 650 per ton, atau US$ 400-500 lebih murah dari beras hom mali dari Thailand, dan US$ 150-200 lebih rendah dari beras Pathum Thani. Persaingan dengan Vietnam mengakibatkan pangsa hom mali di Hong Kong menurun dari 85 persen menjadi 50 persen.

Beras wangi Vietnam meraih pangsa 35 persen di Hong Kong dan 20 persen di Singapura. Thailand merugi dalam biaya logistik karena biaya pengiriman dari Thailand ke Amerika Serikat antara U$ 1.700-1.800, tapi biaya pengiriman dari Vietnam hanya US$ 1.350 per kontainer berukuran 20 kaki.

Presiden Kehormatan TREA, Chookiat Ophaswongse, memperingatkan ekspor Thailand bisa jatuh setengahnya jika pemerintah tidak membantu eksportir. "Pemerintah harus mendukung eksportir dengan menawarkan cadangan beras pemerintah dengan harga khusus atau melalui tender terbuka,” ujarnya.

Menurut Chookiat, hal tersebut lebih baik ketimbang hanya meminta hanya segelintir eksportir untuk mengikuti lelang. Thailand mengekspor 6,3 juta ton beras pada semester pertama tahun ini, atau naik 58,3 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Total target ekspor Thailan tahun ini 10 juta ton.

Menurut Asosiasi Pangan Vietnam (VFA), harga beras naik tajam selama beberapa pekan karena meningkatnya permintaan dunia. Di seberang Delta Mekong di Vietnam, harga beras naik 200-300 dong Vietnam per kilogram meski panen raya musim panas dan gugur terus berlangsung.

Pembelian harga beras pada 29 Juli melonjak 8,6-8,7 dong Vietnam per kilogram untuk beras dengan patahan lima persen. Dan 8,45-8,5 dong Vietnam per kilogram untuk beras dengan patahan 25 persen pada pekan sebelumnya.

Asosiasi mengatakan kenaikan harga beras dalam negeri lantaran ekspose pembelian untuk kontrak ekspor yang sebelumnya diteken eksportir lokal. Asosiasi Pangan Vietnam mengatakan harga naik sejak 11 Juli, ketika Asosiasi menangguhkan rencana membeli 1 juta ton beras untuk cadangan nasional.

Awal Agustus lalu Direktur Departemen Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Provinsi Dong Thap, Duong Quoc Nghia, kepada Vietnam News mengatakan eksportir Thailand berrencana membeli beras Vietnam. "Namun sejauh ini tak ada kontrak pembelian yang telah diteken antara pedagang Vietnam dan eksportir Thailand di Dong Thap."

Petani di Delta Mekong telah memanen sedikitnya setengah dari 1,62 juta hektare lahan yang mereka tanam selama musim panas dan musim gugur. Dalam pertemuan yang digelar Kementerian Pertanian di Can Tho pekan lalu petani berharap dapat menyelesaikan panen pada awal September.

BOBBY CHANDRA | BANGKOK POST | VIETNAM NEWS