Keren, Ponsel Darurat Bisa Menyala Hingga 15 Tahun
Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga
Gunung Gamalama di Ternate, Maluku Utara. TEMPO/Budhy Nurgianto
TEMPO.CO, Jakarta - Perjalanan kami dari Jakarta ke Ternate menempuh waktu sekitar tiga setengah jam. Penerbangan dini hari dari Jakarta langsung menuju Ternate, terhitung mulus. Ditambah bonus perbedaan waktu sekitar dua jam dari waktu Jakarta, kami sampai sekitar pukul tujuh pagi di Bandar Udara Sultan Babullah.
Puncak Gamalama yang disiram semburat matahari pagi langsung menyambut kedatangan saya di Ternate. Asap solfatara tipis tampak mengepul dari kepundan di pucuknya yang berketinggian 1.700-an meter dari permukaan laut. Seperti halnya gunung-gunung berapi lain di Nusantara, Galamama tercatat beberapa kali mengalami peningkatan aktivitas vulkanis dalam tahun-tahun belakangan.
Meski tak selalu ditutup, pendakian di gunung yang elok ini jelas tak direkomendasikan bagi mereka yang tak sungguh bersiap. Dan saya memang tak hendak nekat mendakinya dalam kunjungan singkat yang hanya dua hari ini. Beberapa dari kami berupaya menekan hasrat, betapa pun hebat sensasi yang dikisahkan mereka yang pernah melakukan pendakian, termasuk beberapa dari para penjemput kami pagi itu.
Saya memilih berkeliling Pulau Tidore sebagai awal penjelajahan kami di kepulauan yang di awal abad XVI jadi rebutan para kolonialis Eropa itu. Dengan 76 persen lebih wilayah terdiri dari perairan dan 395 pulau besar-kecil yang menghimpunnya, transportasi laut menjadi dominan dan vital di hampir seluruh Maluku Utara.
Di dermaga yang letaknya di hadapan Pasar Gamalama, Ternate, hampir tiap 15 menit sekali ada speedboat yang bertolak menuju Tidore. Tarifnya Rp 10 ribu per orang untuk satu kali perjalanan. Karena itu, karena rombongan kami cukup besar, mencarter sebuah perahu cepat dengan kapasitas 20-an orang jadi lebih ekonomis. Apalagi jarak tempuh ke Tidore hanya berkisar 10 menit.
Dari atas perahu cepat dengan dua mesin tempel itu pesona pulau-pulau kecil yang mengelilingi kami terlihat jauh lebih menakjubkan. Tak heran jika para petualang Portugis macam Fransesco Serrau dan Antonio d’Abreau pada 1512 dulu tak berpikir dua kali untuk mengatakan bahwa inilah surga di Timur yang disebut-sebut Ferdinand Magelland dalam catatan ekspedisinya.
Tak aneh pula bila keindahan Pulau Maitara dan Tidore yang melatari para nelayan yang berlayar ini dipilih sebagai ilustrasi dalam uang kertas Rp 1.000 terbitan Bank Indonesia. Dari tengah perairan itu tampak jelaslah bahwa Ternate tak lain adalah gunung Gamalama itu sendiri. Di mana sekitar 170 ribu jiwa manusia menumpang di pinggang dan kakinya.
Di Tidore, kami hanya perlu waktu sekitar dua jam untuk mengelilingi pulau kecil itu. Tentu saja waktu sependek itu tak cukup untuk benar-benar menikmati pulau yang di masa lalu juga merupakan pusat kesultanan ini. Beberapa benteng peninggalan Portugis, Spanyol, dan Belanda hanya sempat kami tengok sejenak. Begitu pula kedaton (keraton) Sultan Tidore yang baru beberapa pekan sebelumnya diresmikan.
Yang unik di Tidore adalah bahwa kita masih bisa menemukan jejak kebesaran dan luasnya kekuasaan kesultanan ini di masa lalu, yang terentang hingga Halmahera dan Papua. Jejak itu berupa perkampungan etnik Papua yang cukup besar. Mereka inilah keturunan para punggawa Sultan Tidore yang datang dari berbagai wilayah kekuasaan itu.
Ada satu alasan kenapa kami tak ingin terlalu sore kembali ke Ternate. Sebab kami tak ingin kehilangan momen ketika merahnya langit saat matahari tenggelam menaburi pucuk-pucuk tertinggi Pulau Maitara dan Tidore. Pemandangan itu kami nikmati dari tebing di sisi selatan Ternate, sambil menyeruput hangatnya secangkir air jahe yang diseduh dengan gula aren dan ditaburi irisan kenari. Pisang dan singkong goreng panas dengan colekan sambal yang disajikan di tempat nogkrong yang dinamai “Floridas” ini membuat senja kami nyaris sempurna.
Untuk urusan kuliner, semakin sore kian banyak pilihan yang bisa dijelajahi di Ternate. Di sepanjang pinggiran pantai, banyak warung besar kecil menyajikan aneka masakan yang didominasi ikan-ikanan dan makanan laut khas kepulauan di kawasan timur.
Satu kelebihan yang ada di Ternate adalah bahwa lokasi-lokasi wisata elok itu bisa dinikmati meski waktu kunjungan cukup singkat. Seperti di Tidore, waktu tempuh dengan perjalanan mobil yang cukup santai untuk berkeliling di sepanjang kaki Gamalama hanya memerlukan sekitar dua jam. Selain benteng dan jejak warisan kolonial, wisata alam seperti Danau Laguna, Danau Tolire, dan hamparan bongkahan batuan lava yang disebut Batu Angus dapat kita singgahi.
Tapi, bagi kami, semua pesona itu terasa kurang lengkap jika tak ditutup dengan merasakan segarnya pantai dan perairan yang bening di pulau ini. Karena itulah kami memilih menghabiskan sore kedua itu dengan berenang ria di Pantai Sulamadaha.
Terletak 14 kilometer dari pusat Kota Ternate ke arah utara, pantai ini merupakan salah satu tempat favorit masyarakat untuk berakhir pekan. Dengan hamparan pasir hitam, deburan ombak, serta pemandangan Pulau Hiri yang dikelilingi oleh bukit membuat saya dan tiga rekan lain benar-benar lupa waktu.
Dua jam lebih berlalu tanpa rasa dingin, karena suhu air di pojok teluk itu memang lebih tinggi akibat bercampur dengan sungai bawah tanah yang hangat oleh panas bumi Gamalama. Kami baru sadar bahwa matahari akan tenggelam sebentar lagi, setelah teman-teman di pinggir pantai yang sudah menghabiskan puluhan butir kelapa muda itu mulai berteriak mengajak pulang.
Y TOMI ARYANTO

