Pecahan uang rupiah di penukaran valuta asing di PT Ayu Mas Agung, Jakarta, Selasa (11/5). Tempo/Panca Syurkani
Topik
Infografis
Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah 66 Poin
TEMPO.CO, Jakarta - Mencuatnya kembali kekhawatiran terhadap masalah krisis utang Eropa membuat para pelaku pasar melepas aset-aset dalam mata uang yang berimbas hasil tinggi dan mengalihkannya dalam dolar Amerika Serikat (AS). Walhasil, mata uang utama dunia serta mata uang Asia, termasuk rupiah, kembali melemah.
Pada transaksi pasar uang hari ini, Selasa, 18 Oktober 2011, nilai tukar rupiah ditutup melemah 66 poin (0,7 5 persen) ke level 8.884 per dolar AS. Menguatnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia membuat rupiah dan mata uang Asia lainnya melemah.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang rival utamanya sore ini pukul 17.30 WIB kembali menguat 0,233 poin (0,3 persen) ke level 77,379.
Pengamat pasar uang Farial Anwar mengungkapkan melemahnya rupiah kali ini bukan karena adanya rencana reshuffle (perombakan) kabinet, tapi karena faktor eksternal.
Menguatnya kembali kekhawatiran atas krisis Eropa yang membuat bursa saham global berjatuhan memicu pelemahan mata uang Asia, tidak terkecuali dengan rupiah. “Faktor global kembali menjadi perhatian para pelaku pasar,” tuturnya.
Perombakan kabinet sepertinya hanya merupakan lucu-lucuan seperti dalam sinetron dan tidak ada sesuatu yang signifikan. “Ada menteri yang dari antah berantah tahu-tahu jadi menteri dan meskipun tidak mempunyai kapasitas yang mumpuni di bidangnya, diangkatnya para wakil menteri, serta prosesnya pun sangat bertele-tele,” ujar dia.
Berkaca dari krsisis 1998 dan 2008, pasar finansialnya yang dihajar duluan membuat bursa saham jatuh cukup dalam dan membutuhkan waktu yang lama untuk pulih. Baru kemudian sektor riil menyusul terkena dampaknya, sehingga perekonomian melemah. ”Jadi kita tidak boleh terlena dengan masih solidnya data fundamental makroekonomi saat ini,” kata Farial.
Masih menurut Farial, Bank Indonesia yang berhasil menahan rupiah di bawah level 9.000 patut diberi apresiasi meski tidak bisa dibilang sukses. Walaupun menyedot cadangan devisa yang cukup besar, rupiah kini kembali berada di bawah level 8.900 per dolar AS.
VIVA B. KUSNANDAR





