foto

ANTARA/Rosa Panggabean

Kejatuhan Regional Pangkas Indeks 107 Poin

TEMPO.CO, Jakarta - Jatuhnya bursa regional karena meredupnya harapan penyelesaian masalah krisis Eropa yang terlalu tinggi membuat bursa domestik juga terkoreksi cukup tajam. Selain itu bursa domestik yang sudah menguat cukup besar dalam beberapa hari terakhir dimanfaatkan oleh para investor untuk merealisasikan keuntungan membuat indeks kembali ke 3.600.

Pada perdagangan hari ini, Selasa 18 Oktober 2011, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia turun 106,988 poin (2,87 persen) ke level 3.622,027. Saham sektor pertambangan, perbankan, serta konstruksi yang turun lebih dari 3 persen memimpin kejatuhan indeks kali ini.

Head of Research dari PT eTrading Securities, Betrand Raynaldi, menjelaskan pelemahan indeks kali ini karena faktor eksternal seiring dengan jatuhnya bursa regional dampak dari munculnya kembali kekhawatiran masalah utang Eropa.

Pelemahan bursa yang cukup tajam kali ini juga akibat dari melambatnya perekonomian Cina. Triwulan ketiga kemarin ekonomi Cina hanya tumbuh 9,1 persen, melambat dari triwulan sebelumnya. “Sedangkan Rencana reshuffle (perombakan kabinet) tidak berpengaruh terhadap perdagangan bursa saham kali ini,” kata Betrand.

Belum adanya obat yang mujarab untuk mengatasi masalah krisis utang di Yunani dan negara Uni Eropa lainnya membuat pasar finansial masih akan tetap bergejolak hingga adanya kepastian bantuan dana talangan Yunani akan dikucurkan.

Saham yang berpindah tangan mencapai 6 miliar lembar, dengan nilai transaksi Rp 4,1 triliun, serta frekuensi 122,3 ribu kali transaksi. Harga 234 saham turun, hanya 23 saham yang naik naik, serta 30 saham lainnya stagnan. Investor asing mencatat penjualan bersih Rp 31,5 miliar.

Dari kawasan regional bursa Hong Kong sore ini anjlok sangat dalam 4,23 persen, dikuti bursa Shanghai 2,33 persen, bursa Australia 2,04 persen, bursa Tokyo 1,55 persen. Sementara bursa Seoul turun 1,41 persen, bursa Taiwan 1,36 persen, serta bursa Singapura juga melemah 1,95 persen.

VIVA B. KUSNANDAR