Penasihat Politik dan Media Presiden Suriah, Dr Bouthaina Shaaban. Foto: arabnews.com
Topik
Wawancara Tempo dengan Penasihat Politik Presiden Suriah
TEMPO.CO, Jakarta - Suriah di ambang perpecahan. Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Navi Pillay, mengimbau dunia internasional untuk menyerukan perlindungan kepada warga Suriah. Ia mengatakan perlu segera bertindak.
"Pemerintah Suriah telah gagal dalam melindungi warganya," kata Pillay, Jumat pekan lalu. Ia menuturkan bahwa sejak aksi unjuk rasa meletus pada Maret lalu hingga 14 Oktober, sudah lebih dari 3.000 orang tewas. Jumlah itu, menurut dia, termasuk 187 anak-anak.
Saat Dewan Keamanan PBB hendak menjatuhkan sanksi, Cina dan Rusia memveto kehendak itu. Meski begitu, Cina mendesak agar Damaskus segera mempercepat proses reformasi di sana. Desakan serupa diutarakan Liga Arab, yang beranggotakan 22 negara Teluk.
"Saudara kita di Suriah memerlukan bantuan guna mencari solusi untuk mengatasi krisis di sana," ujar Perdana Menteri yang merangkap Menteri Luar Negeri Qatar, Syeikh Hamad bin Jassim al-Thani, yang memimpin sidang darurat Liga Arab di Kairo, Mesir.
Mereka juga mendesak aksi kekerasan terhadap oposisi yang menyerukan mundurnya rezim pimpinan Presiden Bashar al-Assad. Namun Penasihat Politik dan Media Presiden Suriah Bashar al-Assad, Dr Bouthania Shabaan, mengatakan bahwa Suriah baik-baik saja.
"Hanya di Homs dan Edleb terjadi kekerasan sektarian," kata guru besar puisi romantis di Universitas Damaskus ini. "Semua kini baik-baik saja. Hidup berjalan normal seperti biasa." Perempuan 58 tahun yang pernah menjabat Menteri Ekspatriat ini pada Kamis pekan lalu melawat ke Jakarta.
Di tengah-tengah upaya melobi negara-negara Arab di sini, perempuan yang dijuluki "wajah rezim di dunia luar" tersebut menerima Andree Priyanto, Yogita Lal, Sapto Yunus, dan pewarta foto, Arnold Simanjuntak, dari Tempo untuk sebuah wawancara khusus.
Apa yang Anda bahas dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa?
Diskusi yang menyenangkan. Menteri Marty mengungkapkan opini beliau tentang apa yang semestinya diperbuat oleh negara-negara di dunia, yakni memberi Suriah ruang dan waktu menuju proses demokratisasi. Teman-teman baik Suriah juga berpendapat serupa, seperti Cina, Rusia, Brasil, India, Afrika Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Dukungan yang kami butuhkan bukan sanksi atau ancaman.
Bisa lebih diperjelas?
Saya telah menjelaskan kepada Menteri Marty soal sejumlah perbedaan dimensi yang terjadi di Suriah. Kami sedang mencoba menata kembali konstitusi kami dengan sistem pemilihan parlemen yang jamak dengan banyak partai politik. Beliau menyatakan bahwa sebagai sahabat, Indonesia semestinya membantu reformasi radikal ini sesuai dengan kemauan rakyat Suriah. Negara sahabat membantu, bukan merintangi.
Konstitusi mana yang akan Anda amendemen?
Saya bukan seorang ahli hukum. Memang saya tahu sejumlah isu utama dari konstitusi yang mengarah pada sistem politik yang majemuk. Memiliki banyak partai yang berkompeten di pemilihan umum. Tapi ada isu-isu lain. Karena ini konstitusi, identitas kebangsaan menyentuh segala hal dalam konstitusi.
Mengapa Turki bersikap keras terhadap Suriah?
Apa yang terjadi pada Suriah tentu memiliki dampak terhadap jiran kami. Saya kira mendung yang bergelayut di antara kami dan rakyat Turki akan segera berlalu. Kami punya perbatasan sejauh 800 kilometer dengan Turki. Sebelum krisis terjadi, kami punya hubungan pertemanan yang akrab dengan Turki. Perbatasan yang terbuka, tak ada visa, perdagangan bebas.
Apakah pemerintah akan melakukan rekonsiliasi dengan kelompok oposisi?
Saya diminta Presiden untuk berunding dengan sejumlah tokoh penting oposisi di Suriah. Presiden membentuk sebuah komite yang dipimpin Wakil Presiden untuk kepentingan dialog nasional. Kini, dialog digelar di 14 provinsi di Suriah. Upaya kami untuk melakukan rekonsiliasi nasional amat serius. Krisis ini membuat kami belajar banyak dan membuat kami kian kokoh sebagai bangsa.
ANDREE PRIYANTO | GITA LAL | SAPTO YUNUS





