Vaksin campak. TEMPO/Yosep Arkian
Topik
Selama 2011, Penderita Campak di Jawa Barat Tembus 950 Orang
TEMPO.CO, Bandung—Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan ada kenaikan tren penyakit Campak di Jawa Barat. ”Sejak 2008 hingga tahun ini ada tren kenaikan penyakit campak,” katanya di Gedung Sate Bandung, selepas membuka kampanye imunisasi campak dan polio di Jawa Barat, Selasa, 18 Oktober 2011. Hingga September, status KLB muncul sebanyak 35 kali di sejumlah kabupaten/kota dengan total penderita sudah menembus 950 orang.
Data pemerintah Jawa Barat mencatat Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak di kabupaten/kota mulai muncul sejak 2009, setelah setahun sebelumnya tidak ada satu wilayahpun yang berstatus itu. Tahun 2009 tercatat ada 6 kali KLB penyakit campak di sejumlah kabupaten/kota dengan total penderita 47 orang. Pada 2010 tercatat 25 kali KLB penyakit campak, dengan total penderita berjumlah 739 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Alma Lucyati mengatakan, status KLB untuk campak diberikan jika terjadi peningkatan kasus penyakit itu. Kendati tren naik, katanya, Jawa Barat belum menyatakan status KLB untuk provinsi. ”Untuk mengantisipasi agar tidak KLB, kita cepat intervensi beruntung kita bersamaan waktunya dengan pemerian imunisasi campak dan polio tambahan ini,” katanya.
Alma mengatakan, kendati tren penyakit campak naik penyebarannya belum membahayakan. Yang dikhawatirkan jika penyebaran penyakit campak itu sudah muncul di lebih dari 10 kabupaten/kota dari 26 kabupaten/kota di Jawa Barat.
Menurut Alma, hasil analisa Dinas Kesehatan Jawa Barat, jumlah balita yang rentan terkena campak di Jawa barat mencapai 1,5 juta balita, atau 32 persen dari jumlah balita yang ada.
Tahun ini status KLB campak terjadi berulang di Kota Bandung, Garut, Tasikmalya, Cianjur, serta Bogor. Jumlah penderita terbanyak terjadi di Garut yang mencapai 282 orang, disusul Bandung dengan jumlah penderita mencapai 100 orang. ”Sisanya di bawah 50 orang, dan ada yang hanya 2 orang hingga 3 orang saja,” kata Alma.
Campak disebabkan cakupan imunisasi rendah. ”Bisa juga karena tidak tahu, orang tuanya tidak punya kesempatan karena orang tua sama-sama kerja jadi anak tidak bisa dibawa (imunisasi),” katanya. Dia minta orang tua tidak meremehkan penyakit campak. Jika dibiarkan campak bisa bergabung dengan penyakit lain yang hasilnya bisa menakutkan.
Dalam program imunisasi tambahan untuk campak dan polio akan berlangung sebulan. Program ini ditujukan untuk menyapu semua balita yang berada dalam usia sasaran vaksinasi itu. Dua pekan awal imunisasi digelar di seluruh Posyandu, Puskesmas, dokter praktek, dan rumah sakit. Sementara 2 pekan terkakhir akan dilakukan sweeping.
Imunisasi ini akan melibatkan petugas kesehatan untuk memastikan balita yang hendak divaksin sehat. Alma mengatakan, balita yang tengah demam dan diare diminta tidak divaksi dulu untuk mencegah kejadian ikutan pasca imunisasi. ”Jangan dipaksa, masih ada waktu,” katanya.
Di Jawa Barat target untuk vaksin polio diperkirakan menembus 4,1 juta balita, dengan jumlah vaksin yang disediakn 273,8 ribu viral. Sementera untuk vaksin polio proyeksinya 3,5 juta balita dengan jumlah vaksin yang tersedia 260 ribu viral.
Sementara itu, untuk kasus polio, Heryawan mengatakan dalam 5 tahun terakhir tidak pernah lagi muncul. "Meskipun tidak ada kita tidak bisa men-’declare’ sudah tida ada, boleh jadi ketika ada trigernya bisa muncul lagi, makanya sebelum muncul kita antisipasi,” katanya.
AHMAD FIKRI





