foto

Bendera bintang kejora di Jayapura [TEMPO/Rully Kesuma].

Kongres Papua,Tembakan Beruntun di Tengah Kerumunan  

TEMPO.CO, Jayapura - Kepolisian Daerah Papua menegaskan penembakan yang dilakukan brimob Papua di Abepura, Jayapura, targetnya bukan warga sipil. Penembakan beruntun yang memekakan telinga itu hanya peringatan kepada massa. “Bukan maksudnya mengarah pada warga, atau sengaja ingin membunuh warga,” kata Kepala Bidang Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Wachyono, Rabu, 19 Oktober 2011 malam.

Ia mengatakan, puluhan tembakan yang dilepaskan aparat sesuai prosedur. Jika ada pihak yang terganggu dengan dentuman itu, ia mohon memakluminya. “Ini harus dilakukan, karena bila massa sudah berkumpul pada satu tempat dan sudah ada gejala anarkis, tembakan peringatan membubarkan massa bisa saja dilakukan,” kata dia.

Situasi Abepura petang tadi bagai daerah perang. Ribuan orang membanjiri ruas jalan utama Abepura- Sentani. Mereka berlarian dikejar mobil Baracuda brimob. Tiap lima belas menit, truk polisi memuat peserta kongres dan dibawa ke Polda Papua. Hingga pukul 18.00, Kota Abepura mulai berangsur-angsur sepi dari tembakan.

Polisi menganggap Kongres Papua makar karena mengibarkan bendera Bintang Kejora. Kongres ini juga mengangkat Forkorus Yeboisembut sebagai Presiden Papua Barat dan Edison Waromi sebagai Perdana Menteri. “Ya jelas makar, jadinya kita tangkap, tapi tidak ada kekerasan,” kata Kapolres Kota Jayapura, Imam Setiawan.

Hingga malam ini, ratusan warga masih diperiksa di Polda Papua. “Kita akan lembur sampai besok, soalnya banyak yang harus diperiksa,” katanya.

JERRY OMONA