Kemacetan di Jakarta. ANTARA/Rosa Panggabean
Topik
Roker Turun ke Jalan, Polantas Jakarta Timur Amankan Titik Kemacetan
TEMPO.CO, Jakarta - Mengantisipasi kepadatan lalu lintas akibat peralihan penumpang kereta, Satuan Lalu Lintas Jakarta Timur menempatkan 34 personel di titik kemacetan. Pengurangan 20 jadwal KRL Bogor-Jakarta membuat sebagian penumpang kereta atau yang kerap disebut roker alias rombongan penumpang kereta, terpaksa memilih moda transportasi lain sehingga menambah kepadatan jalan.
Kepala Satuan Lalu Lintas Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Sudarsono mengatakan 34 personel itu diambil dari 10 polsek yang ada di wilayahnya. Sisanya, personel tambahan dari Dirlantas Polda Metro Jaya.
Menurutnya, semua personel saat ini tersebar di Jalan Raya Bekasi. Jalan yang terkenal macet ini merupakan akses utama komuter dari Bekasi dan Cakung menuju Kawasan Industri Pulo Gadung, Kelapa Gading, dan Senen. "Kami fokus pada jalan yang dilintasi komuter," katanya saat dihubungi Tempo di Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2011.
Sudarsono memprediksi volume kendaraan di jalan ini akan semakin gemuk jika pengguna kereta beralih ke motor dan angkot. Namun ia menambahkan, peralihan penumpang kereta belum terasa signifikan. "Padat, iya. Cuma yang sampai macet total, belum."
Berdasarkan pantauan di lapangan, puluhan ribu kendaraan terus memadati Jalan Raya Bekasi pagi ini. Saking padatnya, beberapa kendaraan masuk ke jalan yang berlawanan arah. "Banyak kendaraan yang dari arah timur, Cakung, mengambil jalan dari barat, Pulo gadung, sehingga yang dari barat tersendat, "ujarnya.
Selain kepadatan kendaraan, kemacetan di Jalan Raya Bekasi disebabkan oleh banyaknya putaran jalan atau u-turn yang mencapai 28 putaran. Kemacetan biasanya dimulai dari gerbang Harapan Indah, Pulo Gebang, Pasar Cakung, hingga ke Terminal Pulo Gadung.
Sudarsono mengatakan bahwa personelnya saat ini menjaga u-turn tersebut agar arus lalu lintas tidak semrawut. Pihaknya juga berkoordinasi dengan pos polisi Stasiun Klender, Pondok Kopi, dan Jatinegara untuk mengantisipasi penumpang yang menaiki atap gerbong.
HERU TRIYONO





