foto

TEMPO/Dinul Mubarok

Ketidakpastian Eropa Kembali Lemahkan Rupiah

TEMPO.CO, Jakarta - Rupiah kembali tertekan setelah euro sempat melemah hingga ke US$ 1,36 yang memicu apresiasi dolar dipasar global. Jatuhnya harga saham dan keluarnya dana asing dari bursa turut mendorong pelemahan rupiah mendekati level 8.900 per dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah dipasar uang Kamis, 20 Oktober 2011 ditutup melemah 55 poin (0,62 persen) ke level 8.878 per dolar AS. Head of Research Treasury dari Bank BNI, Nurul Eti Nurbaeti mengemukakan, berita perkembangan penyelesaian krisis utang yang belum menunjukkan titik terang kembali memberikan sentimen negatif bagi rupiah. Akan tetapi, Bank Indonesia yang tetap menjaga mata uangnya dipasar membuat rupiah cukup stabil dan tetap berada di bawah level Rp 8.900 per dolar AS.

Adanya perbedaan pendapat antara pemerintah Jerman dan Perancis yang merupakan negara kuat di Uni Eropa, terhadap penyelesaian masalah Yunani dan dana talangan stabilitas Eropa Eropa membuat para pelaku pasar kembali cemas. “Pasalnya European Economic Summit tinggal beberapa hari lagi dan belum tercapai kata sepakat,” kata dia.

Ekonomi Cina yang melambat serta pandangan The Fed bahwa perekonomian AS 12 distrik juga mengalami perlambatan menambah kekhawatiran pasar finansial. Hal ini memberikan sinyal bahwa pemulihan ekonomi akan berlangsung dalam waktu lebih panjang.

Sedangkan dari faktor domestik, untuk mendukung target pertumbuhan 6,5 persen maka pemerintah harus bisa menggenjot proyek – proyek pembangunan yang sudah ada disisa tahun anggaran 2011. “Biasanya pertumbuhan di triwulan terakhir memang lebih gampang untuk dipacu,” kata Nurul.

VIVA B. KUSNANDAR