TEMPO/Kink Kusuma Rein
Topik
Syarat Rumit, Pembukaan Bank Mandiri di Malaysia Tertunda
TEMPO.CO, Denpasar - Rencana pembukaan kantor cabang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Malaysia rupanya masih tertunda hingga saat ini. Menurut Senior Executive Vice President Bank Mandiri Haryanto Budiman, perusahaan belum akan membuka kantor cabang sebelum persyaratan yang diajukan kepada Bank Negara Malaysia disepakati.
"Kami sudah sampaikan surat kepada Bank Negara Malaysia (BNM), bahwa ada beberapa persyaratan yang kami harapkan disepakati," kata Haryanto, di Hotel Pullman, Bali, Kamis, 20 Oktober 2011. Seperti diketahui, saat ini kantor Bank Mandiri di Malaysia hanya untuk melayani pengiriman uang.
Menurut Haryanto, saat ini perusahaan masih menunggu respon BNM terhadap permintaan tersebut. Jika itu tidak dipenuhi, menurut Haryanto perusahaan tidak akan memaksakan dan akan menunda dulu rencana pembukaan kantor cabang di Malaysia. Itu dikarenakan pembukaan kantor cabang di Malaysia dinilai tidak terlalu mendesak pada saat ini.
Sebelumnya, permohonan tersebut diajukan karena sejumlah kebijakan otoritas perbankan Malaysia dinilai memberatkan bagi bank asing yang ingin membuka cabang. Dalam hal ini, Malaysia telah menerapkan pembatasan porsi kepemilikan asing, di mana dibatasi maksimum 30 persen untuk bank komersial dan 70 persen untuk bank syariah.
Selain itu, bank komersial hanya bisa didirikan dalam bentuk Local Subsidiaries dengan minimum modal yang disetor sebesar MYR 300 Mn. Pada sisi lain, bank syariah asing dapat juga mendirikan bank di Malaysia dengan status overseas branches.
BNM juga hanya memperkenankan pendirian sejumlah kantor cabang dengan komposisi 2 kantor di pusat kota, 4 kantor di semi urban, 2 kantor non urban, dan 10 cabang microfinance sesuai dengan lisensi commercial banking. Menurut Haryanto, tidak ada regulasi atau mekanisme formal untuk mengusulkan tambahan cabang.
BNM juga sangat membatasi pemasangan mesin ATM oleh bank asing sejalan dengan ketentuan pendirian cabang. Namun BNM tidak melarang bank asing utk bergabung dalam jaringan ATM Malaysian Electronic Payment System, namun biaya yang dibebankan berbeda dengan bank lokal dan jauh lebih tinggi.
"Ini adalah salah satu contoh, bahwa bank-bank dari Indonesia menghadapi kendala yang besar ketika akan mengembangkan jaringannya ke luar negeri," kata Haryanto. Di sisi lain, Bank Indonesia dinilai belum melakukan pembatasan terhadap bank campuran dan bank swasta nasional yang dimiliki asing untuk mengembangkan jaringan kantornya di seluruh Indonesia.
EVANA





