AP/Ariel Schalit
Topik
Israel Mendeportasi 40 Tahanan
TEMPO.CO, TEL AVIV - Pemerintah Israel mendeportasi 40 dari 477 warga Palestina yang ditahan di Negeri Yahudi itu sesuai dengan kesepakatan untuk membebaskan serdadu Angkatan Bersenjata Israel (IDF), Sersan Gilad Shalit. Media Suriah mengatakan 16 orang, termasuk seorang perempuan, telah tiba di Damaskus. Sebelumnya, 11 warga Palestina telah tiba di Turki.
Adapun 400 lainnya dilepas di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Sebelumnya, di penyeberangan Rafah, para tahanan Palestina langsung disambut keluarga. Pemimpin Hamas di Gaza, Ismail Hanita, tak ketinggalan ikut memeluk para warga Palestina tersebut. Di Kota Ramallah di Tepi Barat, para tahanan yang bebas dipanggul dan diarak ke penjuru kota.
"Pengorbanan dan upaya Anda semua tidak akan sia-sia," kata Presiden Otoritas Nasional Palestina Mahmoud Abbas. Adapun Gilad disambut ribuan orang di kampung halamannya di Mitzpeh Hila. "Senang melihat Anda pulang," demikian bunyi spanduk yang terpampang menyambut kepulangan Gilad.
Di rumah, Noam Shalit, ayah Gilad, menyampaikan terima kasih. "Hari ini putra kami lahir kembali," katanya. Gilad tampak melambaikan tangan sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan puas telah berhasil membawa pulang pemuda berumur 25 tahun itu.
"Saya bilang kepada orang tua dia bahwa saya telah memulangkan putra kalian," kata Netanyahu. Ia meminta maaf kepada orang tua lain yang anaknya pulang tanpa nyawa. "Situasi politik memungkinkan saya mendapat kesepakatan yang baik ini." Karena itu, ia tak menjamin di masa datang pemerintah bisa melakukan hal yang sama.
"Tak ada jaminan bahwa kami bisa mendapat kesepakatan serupa di masa depan," kata Netanyahu. Maklum saja, Hamas di mata Israel adalah organisasi ekstremis yang kerap menyeru aksi kekerasan dan perlawanan terhadap Israel. "Saya akan gembira melihat mereka dibebaskan kalau mereka menghentikan perlawanan terhadap Israel," ujar Gilad.
Hal itu dikatakan Gilad kepada stasiun televisi Mesir tak lama setelah dia dibebaskan. Ia tampak kebingungan ketika menjawab pertanyaan wartawan dengan dikawal anggota Hamas yang bertopeng di belakangnya. Seorang warga Gaza, Amjad Shawa, kepada BBC, mengatakan bahwa warga berharap pembebasan ini menjadi pembuka untuk pembebasan berikutnya.
"Tak ada yang tertarik pada penderitaan tahanan politik bangsa kami," kata Shawa. Menurut dia, masyarakat internasional juga gagal menegur Israel yang terus ngotot membangun permukiman di wilayah pendudukan, sehingga membuat warga Gaza semakin menderita. "Kami tidak hidup setara," ujarnya, lagi. "Israel punya negara, sedangkan kami tidak."
| AP | GUARDIAN | REUTERS | ANDREE PRIYANTO





