foto

Wiendhu Nuryanti (Dok/Istimewa)

Para Akademisi dan Budayawan Akhiri Polemik Soal Wiendu  

TEMPO.CO, Jakarta - Para akademisi dan budayawan memutuskan untuk berhenti membahas soal terpilihnya Wiendu Nuryanti sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk bidang Kebudayaan. Para akademisi dan budayawan ini sebelumnya menolak pencalonan Wiendu sebagai Wamenbud dan sudah mengirimkan evaluasi atau masukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum Wiendu dilantik Rabu lalu.

“Kami mengirimkan hanya kepada Presiden, namun tidak mendapat tanggapan,” kata salah satu akademisi dan budayawan, Anggi Minarti, saat dihubungi, Jumat, 21 Oktober 2011.

Menurut dia, evaluasi atau masukan tersebut bersifat tertutup yang diharapkan menjadi pertimbangan bagi Presiden SBY agar tidak salah memilih calon. Evaluasi ini dikirim dalam bentuk pesan pendek kepada Presiden SBY melalui Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga pada hari Minggu lalu, 16 Oktober 2011.

Anggi, yang juga aktif di lembaga Jogja Heritage Society, memaparkan, para akademisi dan budayawan yang menyumbangkan masukan dan pertimbangan tersebut tidak hanya berasal dari Yogyakarta. Masukan ini, menurut Anggi, didasarkan pada pengalaman, kedekatan, dan pengamatan terhadap sosok Wamenbud itu dalam dunia kebudayaan. “Itu semua fakta, tidak ada yang rekayasa,” katanya.

Namun Anggi menolak untuk memaparkan secara detail isi evaluasinya dengan alasan hanya diperuntukkan bagi Presiden SBY. Ia pun tak mau berkomentar mengenai keputusan Presiden SBY yang akhirnya tetap melantik Wiendu. “Saya no comment saja,” kata Anggi.

Setelah pelantikan dilaksanakan, menurut Anggi, para akademisi dan budayawan bersepakat untuk tidak melanjutkan pembahasan. “Bahwa hasilnya seperti ini, ya sudah, tidak ada lagi yang perlu dibahas,” katanya.

Alasannya, kata dia, agar masalah penolakan terhadap Wiendu ini tidak kontraproduktif bagi para akademisi dan budayawan. Pada saat ini, mereka lebih memilih untuk fokus pada agenda-agenda kebudayaan yang harus ditangani.

Kendati demikian, menurut Anggi, para akademisi dan budayawan tidak akan berhenti mengawal perkembangan dan kebijakan pemerintah terkait dengan kebudayaan.

FRANSISCO ROSARIANS