sxc.hu
Topik
Infografis
Foto Terkait
Inilah Kronologi Pembunuhan Mayat dalam Kardus dan Koper
TEMPO.CO, Jakarta - Berperawakan pendek, kurus, tapi kekar, serta potongan rambut cepak, sepintas tak terlihat sosok pembunuh, melainkan sosok seorang ayah. Dialah Rahmat Awai, 26 tahun. Dengan wajah datar, Rahmat menepis puluhan pertanyaan wartawan yang terus mencecarnya di Markas Polda Metro Jaya, Jumat, 21 Oktober 2011 malam. Tak ada reaksi. Rahmat pun tak berupaya untuk menutupi wajahnya meskipun puluhan kamera terus menyorotnya.
Di tangan laki-laki asal Lampung ini, dua nyawa dihabisi dengan cara yang bengis. Satu korbannya adalah Hertati, 36 tahun, ibu tiga anak yang juga kekasihnya. Hertati dibunuh dengan perut yang berisi janin buah asmara dengannya. Korban kedua adalah anak Hertati, berinisial E, 6 tahun.
Pembunuhan terjadi pada Jumat, 13 Oktober 2011 dini hari, di kontrakan milik Hertati, di kawasan KBN, Sukapura, Jakarta Utara. Di malam laknat itu, Rahmat menyambangi rumah Hertati dengan sebuah rencana: menghabisi nyawa kekasihnya. Pemuda yang mengaku hiperseks itu datang bersama seorang rekan kerjanya bernama Kriswahyudi, 27 tahun.
Sesuai rencana, di sana ia bertemu dengan Hertati dan anaknya, E. Namun ia tak langsung menghabisi nyawa perempuan paruh baya itu. Rahmat mengajaknya bercinta terlebih dahulu. Sementara Kriswahyudi diminta untuk mengajak E berjalan-jalan keluar selagi ia bercinta. E kemudian diajak berjalan hingga sampai di balkon tetangga.
Setelah puas memenuhi hasrat duniawinya, Rahmat mengambil pisau dapur dan menghunuskan pisau tersebut ke perut Hertati yang tengah mengandung jabang bayi. Sontak, Hertati menjerit. Mulutnya kemudian dibekap. Nyawanya pun melayang di tangan Rahmat.
E, yang tengah berada di balkon tetangga, mendengar jeritan ibunya. Ia kemudian masuk ke rumah bersama Kriswahyudi. Bocah itu terkejut melihat ibunya tergeletak. Serta-merta Rahmat meminta Kriswahyudi memegang E. Rahmat pun membekap mulut E hingga lemas. Tak hanya membekap mulutnya, Rahmat pun menyetubuhi dan menyodomi E hingga bocah malang itu meregang nyawa dan tewas.
Kekejaman Rahmat tak berhenti sampai di situ. Setelah kedua perempuan malang itu tewas, Rahmat keluar mengambil bensin dari motornya. Kriswahyudi diperintah untuk berjaga-jaga di depan rumah. Bensin itu kemudan ia siram ke wajah E.
Kemudian disulut dengan api hingga api menyala dan menghanguskan wajahnya. “Korban dibakar untuk menghilangkan jejak,” kata Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Helmy Santika, Jumat, 21 Oktober 2011 malam.
Api yang membumbung kemudian dipadamkan dengan air untuk mencegah api menjalar. Rahmat kemudian membereskan tempat kejadian perkara. Ia mengikat Hertati dengan tali rafia dan mengemasnya dalam kardus televisi 21 inci merek Sharp. Sedangkan E dimasukkan dalam koper berwarna hitam-biru.
Jumat siang, sekitar pukul 12.00 WIB, Rahmat membuang kardus tersebut di sebuah gang di daerah Koja, Jakarta Utara. Keesokan harinya, Sabtu, 15 Oktober 2011, giliran koper berisi mayat E ia buang di daerah Cilincing, Jakarta Timur.
Sepekan setelah pembunuhan, Kepolisian Daerah Metro Jaya berhasil menangkap pelaku. Keduanya ditangkap pada Jumat, 21 Oktober 2011 pagi, di tempat kerja mereka, daerah Sunter, Jakarta Utara.
Jumat malam hari, keduanya digelandang ke Markas Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan serta dipublikasikan kepada media.
Kutukan tak berhenti di situ. Rahmat ternyata punya kekasih lain berinisial I. I juga tengah hamil. Bedanya, Rahmat berencana menikah dengan I. Menurut penyidik kepolisian yang enggan disebutkan namanya, ia bahkan sudah berupaya mengurus pernikahannya dengan I.
Saat Rahmat tengah menjalani pemeriksaan di kepolisian, I mengirim pesan pendek melalui telepon seluler ke nomor milik Rahmat. Melalui pesan itu, I menyampaikan niatnya untuk bunuh diri. “Kalau kamu tidak angkat telepon, saya mau bunuh diri,” kata seorang penyidik menirukan pesan di telepon Rahmat. “Anggota sudah diberitahu SMS itu. Kami berupaya mencegah. Kita lihat saja besok, korban bertambah atau tidak,” kata penyidik tersebut.
ANANDA BADUDU





