Terduga pelaku teror Umar Patek saat melakukan rekonstruksi adegan bom Bali di Denpasar, Kamis (20/10). Patek dituduh membuat bahan peledak yang digunakan dalam pemboman Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. AP/Firdia Lisnawati
Topik
Infografis
Foto Terkait
Di Solo, Umar Patek Jalani Rekonstruksi di Empat Lokasi
TEMPO.CO, Surakarta - Proses rekonstruksi kasus Bom Bali I yang melibatkan Umar Patek di Solo berlangsung di empat lokasi, Sabtu, 22 Oktober 2011. Proses rekonstruksi tersebut mendapat pengawalan ketat dari polisi. Umar Patek dan kawan-kawannya diangkut dengan dua kendaraan barakuda.
Tempat pertama yang menjadi lokasi rekonstruksi berlangsung di Terminal Tirtonadi. Di tempat ini, Umar Patek menjalani dua adegan, yaitu adegan dia berangkat ke Bali dan adegan kembali dari Bali. Dalam adegan pertama, Umar Patek diantar ke terminal oleh Dulmatin dengan mengendarai sepeda motor.
Selanjutnya, rekonstruksi dilakukan di sebuah rumah di Dukuh Mantung, Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol Sukoharjo, Jawa Tengah. Rumah tersebut merupakan kontrakan Dulmatin, salah satu buron yang berhasil ditembak mati di Pamulang.
Rekonstruksi kemudian berpindah ke sebuah rumah di Kampung Sidodadi, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Di lokasi tersebut, polisi juga membawa Heru Kuncoro, Ali Imron, Mubarok, Hutomo Pamungkas, Idris, dan Abdul Goni. Sedangkan trio bomber serta Azahari diperankan oleh petugas.
“Kami tidak menyangka pernah ada pertemuan besar di rumah ini,” kata Tutik Marikariyanti, salah seorang warga. Namun dia masih ingat kalau beberapa pelaku memang pernah tinggal di tempat itu. “Namun mereka sangat tertutup,” tambahnya.
Dari Laweyan, proses rekonstruksi bergeser ke Perumahan Mekarsari, Gonilan, Sukoharjo. Setelah itu, Umar Patek dan komplotannya segera dibawa kembali ke kantor Kepolisian Resort Kota Surakarta.
Proses rekonstruksi yang dimulai sejak pukul 05.00 WIB dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Hingga saat ini, Umar Patek masih berada di Polresta Surakarta untuk menunggu dibawa kembali ke Jakarta.
AHMAD RAFIQ





