foto

Prisia Wulandari Nasution alias Pia Nasution. TEMPO/Agung Pambudhy

Prisia Nasution: Tak Mau Kacangan  

TEMPO.CO, Jakarta -  Tak ada alasan bagi Prisia Nasution, 27 tahun, menolak tawaran bermain di film Sang Penari. Sederet nama besar, seperti Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, dan Happy Salma, menjadi jaminan mutu film itu. Apalagi film yang akan tayang di bioskop mulai 10 November mendatang ini diangkat dari novel fenomenal, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Dalam film yang berlatar sekitar 1965 itu, dia berperan sebagai Srintil, Nyi Ronggeng dari Dukuh Paruk. Sebagai penari ronggeng baru, Srintil begitu populer dan digandrungi. Dia cantik dan menggoda. Tapi menjadi ronggeng pada saat itu juga bermakna jadi perempuan yang bisa dinikmati siapa saja. Asal ada uang dan bisa membayar, lelaki mana pun bisa menikmati kemolekan tubuh Srintil di atas ranjang.

Di dukuh yang berada di Banyumas itu, semua berjalan apa adanya. Namun peristiwa 1965 membuat semuanya berubah. Dukuh tersebut hancur secara fisik dan mental. Warganya divonis ikut terlibat dalam pertikaian politik berdarah. Warga dukuh banyak yang ditangkap, termasuk Srintil.

"Srintil itu figur dengan very strong character," kata Prisia, yang biasa disapa Pia, dengan antusias saat berbincang dengan Tempo, Rabu lalu, di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan.

Menentukan keterlibatannya dalam sebuah film, Pia tak mau main-main. Dalam bahasa mantan atlet silat ini, dia tidak ingin bermain dalam film kacangan. "Kita mesti melihat film sebagai karya budaya yang mesti digarap secara serius. Kalau cuma film-film kacangan, enggaklah," ujarnya serius.

Saat proses syuting Sang Penari akan dimulai, dia sengaja blusukan ke Banyumas untuk melihat dari dekat pertunjukan ronggeng. "Saya menjadi penari ronggeng sekitar empat kali," ujar Pia.

Pemegang gelar master bidang teknologi informasi dari Fachhochschule Südwestfalen (University of Applied Sciences South Westphalia), Jerman, itu kini tengah terlibat dalam penggarapan serial Laskar Pelangi. Perempuan yang menguasai bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis ini berperan sebagai Ibu Muslimah, guru Sekolah Dasar Muhammadiyah di Gantong, Belitong.

Sebelum bermain film, Pia adalah atlet silat berprestasi. Saat di sekolah menengah atas, pemegang sabuk merah ini meraih medali emas di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional, dan di kejuaraan internasional Perisai Diri di Bali. Ia mengaku tertarik pada silat sejak bersekolah di Sekolah Menengah Pertama 68 Jakarta. "Awalnya saya suka lihat serial silat The White Snake Legend yang diputar di TV," ujarnya.

Kini ia menggandrungi bela diri muay Thai, sejenis Thai boxing asal Thailand. Saban Kamis sore dia biasa berlatih di bilangan Kuningan.

 Amirullah

Biodata
Nama: Prisia Wulandari Nasution
Panggilan: Pia
Kelahiran: Jakarta, 1 Juni 1984
Orang tua: Robert Nasution dan Siti Sundari
Status dalam keluarga: bungsu dari dua bersaudara
Hobi: bola basket silat, melukis, piano, musik klasik

Pendidikan:
l SMA 34 Jakarta
l Northport High School, Washington, Amerika Serikat (lulus 2002)
l Swiss German University, Serpong, Jurusan Teknologi Informasi, dual degree pada Fachhochschule Südwestfalen, Iserlohn, Jerman

Prestasi:
l Medali emas pencak silat Pekan Olahraga Pelajar Nasional
l Medali emas pencak silat Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional
l Medali emas kejuaraan internasional Perisai Diri di Bali
l Juara I pada Look Model Hunt 2003

Karier:
l Pembawa acara World Kick Off (ANTV)
l Pembawa acara Lensa Olahraga (ANTV)
l Serial Laskar Pelangi (SCTV)
l Sang Penari (film)