PM Italia Silvio Berlusconi (tengah). REUTERS/Francois Lenoir
Topik
Infografis
Rupiah Kembali Jauhi Level Rp 8.900
TEMPO.CO, Jakarta - Tingginya ekspektasi Uni Eropa dapat menghasilkan solusi untuk mengatasi krisis utang berdampak positif terhadap pasar finansial global. Hal ini memicu para pelaku pasar kembali memburu aset – aset yang dianggap beresiko mendorong penguatan di bursa saham, komoditas dan mata uang regional.
Rupiah pun terkena imbasnya, sehingga dalam transaksi hari ini Senin, 24 Okober 2011 mata uang lokal berhasil menguat 55 poin (0,61 persen) ke level 8.853 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat pasar uang dari PT Monex Investindo Futures, Yohanes Ginting mengemukakan, apresiasi rupiah kali ini ditopang oleh sentimen positif dari perkembangan Eropa yang kelihatannya mulai mendekati kesamaan persepsi. Selain itu, para menteri keuangan Uni Eropa juga telah sepakat bahwa untuk mengatasi krisis utang kawasan membutuhkan dana sebesar US$ 2 triliun dan melakukan pemotongan utang Yunani hingga 50 persen.
Positifnya data ekonomi Jepang dan Cina yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar di Asia ini mampu meningkatkan rasa percaya diri para pelaku pasar berinvestasi kawasan regional. “Walhasil, bursa saham dan mata uang Asia menguat,” tutur Yohanes.
Dari faktor domestik, fundamental ekonomi Indonesia masih sangat mendukung apresiasi rupiah. Namun, faktor eksternal terkait masalah Eropa masih akan mendominasi pergerakan rupiah. “Kedepannya pasar akan kembali melihat sejauh mana Eropa menghasilkan langkah – langkah kongkrit mengatasi krisis utang, dan jika gagal, pasar akan kembali bereaksi negatif,” dia memaparkan.
VIVA B. KUSNANDAR





