Sastrawan Titie Said Meninggal

TEMPO.CO, Jakarta-- Titie Said, mantan Ketua Lembaga Sensor Film, meninggal dunia di usianya ke-76 tahun. Titie mengembuskan napasnya kemarin sekitar pukul 18.45 WIB, di Rumas Sakit Medistra, Jakarta Selatan.



Menurut koleganya, Nunus Supardi, Titie meninggal setelah terkena serangan stroke beberapa hari lalu. "Pada 9 Oktober lalu, Ibu Titie kena serangan stroke dan dibawa ke ICU RS Medistra," kata Nunus, Ketua Lembaga Sensor Film, kepada Tempo.



Kabar serangan stroke itu, kata Nunus, membuat kaget para kolega Titie. Sebab selama ini, perempuan yang telah menulis 25 novel itu dikenal ceria dan tidak pernah punya riwayat sakit berat. "Paling-paling beliau kena flu saja, tidak ada sakit yang parah," ujar Nunus.



Selama bekerja di LSF, perempuan kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, pada tanggal 11 Juli 1935 ini terkenal humoris dan tidak pernah marah. Bahkan Nunus mengaku tidak pernah mendengar Titie mengeluh, baik tentang pekerjaan, kesehatan, maupun keluarganya. "Dia selalu membawa suasana kerja dan perbincangan menjadi hidup dan segar," ujar Nunus.



Saat bekerja, Titie sama seperti anggota LSF lainnya. Keras terhadap film yang beradegan vulgar. "Saat menyensor film, beliau suka berkata, ciuman plintir itu, potong..potong," cerita Nunus. Istilah ciuman plintir, lanjut dia, dimunculkan oleh Titie. Yang dimaksud ciuman plintir itu sendiri adalah adegan ciuman bibir dengan gambar close up dan durasi lama.



Sejumlah aktor film mengaku yang kehilangan sosok mantan ketua Lembaga Sensor Film (LSF) tersebut. "Ibu Titie itu sangat keibuan dan sangat teliti dalam menyeleksi film sewaktu di LSF. Sewaktu masih di LSF, kalau ada hal yang menurut beliau kurang jelas, beliau pasti memanggil sutradara atau produser filmnya," ujar Lukman Sardi, aktor utama film Sang Pencerah, kepada Antara.



Selama hidupnya, Titie telah membuat puluhan novel berjudul Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia, dan Prahara Cinta (2008). Serta kumpulan cerita pendek Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).



Titie memulai karir dengan menjadi wartawan di Majalah Wanita, pada 1965, seusai menamatkan kuliah di Universitas Indonesia. Selain itu, dia juga aktif menulis di Majalah Kartini dan Famili. Setelah menikah, Titie pindah ke Bali. Di sana dia aktif menjadi anggota DPRD Bali. Setelah delapan tahun tinggal di Pulau Dewata, ibu lima anak ini kemabali ke Jakarta. Pada tahun 2000-2010 Titie aktif menjadi Ketua LSF.



Jenazah Titie telah dibawa ke rumah duka di Jalan Pejaten Raya Nomor 28 Jakarta Selatan. Rencananya jenazah akan dikebumikan di TPU Jeruk Purut, Selasa siang besok.



CORNILA DESYANA