foto

Teknisi sistem persenjataan dari skuadron 425 Tactical Fighter membawa bom dan rudal untuk pesawat jet tempur CF-18 Hornet di pangkalan udara Trapani, Sisilia, Italia. Kanada telah menyiapkan enam CF-18 (CF-188) Hornets untuk menegakkan zona larangan terbang di atas Libya. REUTERS Gaudreault / Marc-Andre Kopral / Canadian Forces Combat

Amnesty International: Amerika dan Rusia Pedagang Senjata Terbesar

TEMPO.CO, Ottawa- Amerika Serikat, Rusia dan sejumlah negara Eropa menjadi penyedia terbesar senjata yang disalurkan ke Timur Tengah dan Afrika selama tahun ini. Laporan Amnesty International yang dikutip aljazeera Senin, 24 Oktober 2011 menyatakan pasokan senjata itu sangat beresiko memicu pelanggaran hak asasi manusia.




Amnesty International merupakan lembaga hak asasi manusi yang bermarkas di Ottawa Kanada. Menurut laporan Amnesty, penjualan dilakukan negara seperti Austria, Belgia, Bulgaria, Republik Ceko, Perancis, Jerman, Italia, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat.




Dalam lima tahun, negara-negara ini menjual senjata kecil, gas air mata, kendaraan lapis baja dan peralatan keamanan lainnya dijual ke lima negara yang sedang menghadapi pemberontakan besar yakni Bahrain, Mesir, Libya, Suriah dan Yaman.




Amerika merupakan pemasok senjata terbesar ke Mesir berupa peralatan militer dan penegakan hukum senilai US$ 1,3 miliar. Libya juga menjadi tujuan pemasok senjata sejak 2005 dari Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Rusia, Spanyol dan Inggris. "Ini merupakan kegagalan kontrol ekspor senjata untuk mencegah transfer senjata," tulis Amnesty.




Amnesty juga melaporkan India sebagai pemasok kendaraan lapis baja ke Suriah. Perancis dan Rusia juga menjadi pemasok utama amunisi ke Suriah.

PBB membuat perjanjian pembatasan perdagangan senjata yang didukung 153 negara. Tujuan perjanjian ini adalah mengatur pasar senjata global sehingga bisa menjaga stabilitas keamanan dunia. Negara anggota PBB akan bertemu lagi pada bulan Juli tahun  depan menegosiasikan perjanjian ini.

ALJAZEERA | ILHAM