foto

Uang Rupiah. TEMPO/Dinul Mubarok

Rupiah Menguat 15 Poin ke Rp 8.838 per dolar AS

TEMPO.CO, Jakarta - Positifnya bursa saham Asia serta terapresiasinya mata uang regional mampu memicu kembali penguatan rupiah. Munculnya harapan bahwa dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Eropa Rabu besok dapat menghasilkan solusi untuk menangani krisis utang kawasan, membuat para investor melepas posisi dolar sehingga mata uang regional cenderung menguat.

Dalam transaksi pasar uang di Jakarta hari ini, Selasa, 25 Oktober 2011, nilai tukar rupiah ditutup menguat 15 poin (0,17 persen) ke level 8.838 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat pasar uang dari PT Harvest International Futures, Tonny Mariano, menjelaskan, aksi ambil untung dari para pelaku pasar terhadap dolar AS dan positifnya aktivitas bursa Asia mampu mendorong penguatan mata uang regional.

Para pelaku pasar tampaknya cukup berharap akan muncul langkah-langkah yang konkret untuk dapat mengatasi krisis Eropa yang membuat bursa regional bergerak positif sehingga mata uang Asia sedikit menguat. “Meskipun dalam perjalanannya nanti masih pasti akan timbul masalah baru,” kata Tonny.

Kepastian seberapa besar dana yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis, serta ketersediaan dana talangan bagi stabilitas finansial Eropa, masih terjadi simpang siur di pasar. Pemangkasan (write off) utang Yunani lebih lebih dari 50 persen akan dilakukan agar negara tersebut tidak bangkrut. Namun akan menjadi masalah kepada pihak yang memegang obligasi Yunani, yakni perbankan. ”Hal ini yang akan menjadi perhatian pasar bila opsi ini harus ditempuh dan seberapa besar Uni Eropa dapat memberikan talangan ke sektor perbankan,” Tonny memaparkan.

Dari kawasan regional, mata uang Singapura sore ini ditutup menguat 0,04 persen menjadi 1,2628 per dolar AS, won Korea Selatan terapresiasi 0,48 persen ke 1.129,16, peso Filipina menguat 0,3 persen menjadi 43,145, ringgit Malaysia naik 0,29 persen ke 3,1287, serta dolar Taiwan juga terapresiasi 0,03 persen menjadi 30,1175 per dolar AS.

VIVA B. KUSNANDAR