REUTERS/Carlos Barria
Topik
Foto Terkait
Pertumbuhan Cina Melambat
TEMPO.CO, Beijing - Lembaga investasi asal Amerika, Blackrock Inc, menyatakan, pertumbuhan produk domestik bruto Cina akan melambat beberapa tahun ke depan setelah mencatat kemajuan drastis satu dekade lalu. Hal ini terjadi di antaranya karena adanya risiko kejenuhan investor untuk menanamkan modal di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Melalui hasil riset yang dirilis kemarin, analis Blackrock Investment Institute memperkirakan pertumbuhan PDB Cina akan menyentuh angka 7 hingga 8 persen. “Hal ini menunjukkan kemunduran, karena dekade lalu pertumbuhan mereka mencapai 10,5 persen,” kata mereka seperti dikutip Bloomberg, kemarin.
Hal ini juga diakibatkan semakin mahalnya biaya kredit sektor riil. Untuk mendukung risetnya, analis Blackrock mengambil perbandingan sebagai berikut, pada 2002, untuk menghasilkan 1 yuan PDB diperlukan pinjaman 0,17 yuan, sedangkan saat ini pinjaman yang diperlukan untuk menghasilkan per unit PDB ialah 0,30 yuan.
Bulan ini, Perdana Menteri Cina Wen Jiabao memutuskan untuk mengurangi porsi kredit perbankan, seiring melemahnya prospek ekspor tujuan Amerika dan Eropa. Hal ini dinilai akan meningkatkan rasio pinjaman berisiko tinggi atau kredit tak resmi yang biasanya dilakukan perusahaan-perusahaan kecil. “Prospek investasi di Cina memburuk,” kata Neeraj Seth, Kepala Kredit Regional Asia Blackrock.
Merebaknya pinjaman berisiko tinggi itu rupanya telah membawa korban. Setelah gagal berjuang melunasi utang-utang pada lintah darat, 80 pengusaha di sebelah selatan Kota Wenzhou dikabarkan menghilang, bunuh diri, atau menyatakan bangkrut untuk menghindari penagihan paksa.
Sementara itu, India pun memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka seiring meningkatnya angka inflasi dan perlambatan ekonomi global. Bank sentral India (RBI) kini memangkas pertumbuhan dari 8 persen menjadi 7,6 persen. Kini mereka pun menaikkan suku bunga dari 8,25 persen menjadi 8,5 persen. “Melambatnya kinerja ekonomi global mempengaruhi kinerja industri domestik,” demikian pernyataan RBI seperti dikutip BBC.
FERY FIRMANSYAH





