Atribut bendera partai politik di kawasan Petamburan Tanah Abang, Jakarta, Minggu (8/3). Tempo/Arnold Simanjuntak
Topik
Kepercayaan Masyarakat pada Partai Kian Anjlok
TEMPO.CO, Jakarta - Kepercayaan masyarakat pada partai politik terus turun dari tahun ke tahun. Indikator kepercayaan pada parpol ini bisa diukur dari kinerja dan manfaat parpol. Survei terakhir yang dilakukan Reform Institute tentang kinerja parpol peserta Pemilu 2009 menyatakan 60 persen responden kurang puas. Sedangkan yang menjawab puas sebesar 21,98 persen, tidak puas 14,84 persen, dan 2,92 persen tidak menjawab.
Survei tentang kinerja parpol peserta Pemilu 2009 ini dilakukan pada 1.988 responden di 33 provinsi selama 12-24 September 2011. Tingkat ketidakpercayaan masyarakat berdasarkan kinerja parpol ini meningkat dibanding survei sebelumnya. Pada survei awal Feburuari 2009, jumlah responden yang kurang puas terhadap kinerja parpol sekitar 40 persen dan tidak puas sekitar 10 persen.
“Ketidakpuasan masyarakat karena selama ini politik yang dilakukan politikus hanya kata-kata (janji), bukan tindakan (kerja),” ujar Direktur Pengembangan Reform Institute, Abdul Hamid, Rabu, 26 Oktober 2011. Faktor lainnya karena kasus-kasus hukum yang melibatkan politikus. “Faktor ini juga berperan mengurangi kepercayaan pada politikus dan tentunya parpol,” ucapnya.
Sementara dari aspek manfaat parpol, dari 2010 respoden, sebanyak 34,08 persen menyatakan parpol tidak banyak manfaatnya dalam sistem bernegara dan bermasyarakat. Sedangkan 21,89 persen menilai parpol dapat memajukan daerah. Lalu 15,72 persen responden merasakan manfaat parpol secara praktis yakni mendapat money politics dalam bentuk uang dan barang di setiap ajang pemilu dan pilkada.
Kemudian 14,08 persen responden mengaku manfaat parpol bisa mengontrol pemerintah melalui kader parpol yang duduk di DPR ataupun DPRD. Sedangkan 10,30 persen responden menyatakan dengan parpol bisa menjadi wadah tokoh daerah menjadi pemimpin di pusat maupun daerah.
Sebanyak 1,89 persen responden mengaku dengan parpol akan membuka peluang masyarakat jadi pengurus parpol. Sementara 2,04 persen responden sisanya tidak menjawab. “Ketika tingkat kepercayaan pada parpol terus menurun, ini sudah krisis demokrasi,” kata Hamid.
ISHOMUDDIN





