foto

Agus Martowardojo. TEMPO/Imam Sukamto

Menkeu: Target Pertumbuhan Ekonomi Bisa Dikoreksi

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pemerintah tidak menutup kemungkinan mengubah target pertumbuhan ekonomi tahun 2012 yang dipatok sebesar 6,7 persen. Perubahan ini dengan melihat kondisi India dan Cina. "Kami berkomitmen mencapai itu. Tapi kami akan waspada," ujarnya, Rabu, 26 Oktober 2011.

Ia mengatakan asumsi pertumbuhan 6,7 persen pada 2012 dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara ditentukan saat pemerintah mengacu pada pertumbuhan ekonomi dunia yang pada saat itu belum dipandang mengalami masalah serius. "Pada saat kami memproses anggaran untuk tahun 2012, pemerintah masih menggunakan asumsi dengan basis 6,7 persen. Tapi sekarang perkembangan ekonomi global memburuk."

Kementerian Keuangan pun optimistis kalau pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2011 masih sesuai dengan target sebesar 6,5 persen. "Kalau nanti dampak krisis global sampai ke Indonesia lebih cepat, kami akan melakukan APBNP lebih cepat dari yang biasanya pembahasan di bulan Juni atau Juli," kata Agus.

Sebelumnya, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional Aviliani mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan hanya akan mencapai 5,2 persen dan maksimal 5,9 persen dari produk domestik bruto. Hal itu mungkin terjadi jika krisis ekonomi yang melanda kawasan Eropa semakin buruk.

Perkiraan tersebut lebih pesimistis dibanding prediksi Bank Dunia sebelumnya yang menyatakan prediksi terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3 persen. Selain itu, India dan Cina, yang merupakan tujuan ekspor terbesar, pertumbuhan ekonominya akan terkoreksi sangat tajam.

Lembaga investasi asal Amerika Serikat, BlackRock Inc, menyatakan pertumbuhan produk domestik bruto Cina akan melambat beberapa tahun setelah mencatat kemajuan drastis satu dekade lalu. Hal ini terjadi, di antaranya, karena adanya risiko kejenuhan investor untuk menanamkan modal di Negeri Tirai Bambu.

Melalui hasil riset yang dirilis kemarin, analis BlackRock Investment Institute memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto Cina akan menyentuh angka 7 sampai 8 persen dibandingkan dengan pertumbuhan selama satu dekade ini yang mencapai 10,5 persen.

India pun telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi karena meningkatnya angka inflasi dan perlambatan ekonomi global. Bank Sentral India (RBI)memangkas pertumbuhan dari 8 persen menjadi 7,6. "Cina dan India ada koreksi karena mereka akan terkena imbas langsung dari krisis global. Indonesia kami perkirakan akan terkena efek second round," katanya.

Pemerintah, kata Agus, tidak akan tinggal diam dengan perlambatan ekonomi jika sampai berdampak pada Indonesia. Langkah yang diambil adalah dengan penguatan pasar domestik, mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal, dan mempercepat penyerapan anggaran negara dan perbaikan regulasi pembangunan infrastruktur dengan pola Publik Privat Partnership.

"Kami melihat investasi portofolio dan foreign direct investment ke dalam negeri masih dalam kondisi baik," ucap Agus.

ALWAN RIDHA RAMDANI