MS Hidayat. TEMPO/Dinul Mubarok
Topik
Semen Padang Olah Listrik dari CO2
TEMPO.CO, Jakarta - PT Semen Padang menggarap proyek pengolahan gas buang karbondioksida (CO2) menjadi energi listrik (waste heat recovery power generation/ WHRPG). Proyek hasil kerjasama dengan New Energy and Industrial Tecnology Development Organization (NEDO) Jepang itu mampu menghasilkan listrik sebesar 8,5 mega watt atau setara 63,2 GWh per tahun.
Menteri Perindustrian Muhamad Sulaeman Hidayat mengatakan, listrik yang dihasilkan mencapai Rp 33 miliar per tahun dan akan mampu menghemat biaya sekitar 20 persen terhadap pabrik Indarung V. "Hal ini bisa mengurangi emisi karbondioksida sebesar 46 ribu ton per tahun," kata dia di Jakarta. Rabu 26 Oktober 2011.
Proyek ini dimulai sejak 2009 dengan total biaya Rp 2 milyar yen atau Rp 200 milyar. NEDO menanggung 65 persen biaya untuk pengadaan peralatan, sedangkan sisanya ditanggung Semen Padang.
Dengan kapasitas produksi 6,4 juta ton per tahun dan penggunaan batu bara 760 ribu ton per tahun, Semen Padang berpotensi menghasilkan emisi karbondioksida yang cukup besar. Melalui teknologi WHRP, karbondiksida diubah menjadi listrik sehingga dampak buruk gas tersebut bisa ditekan.
Hidayat menambahkan, proyek ini baru pertama kali diterapkan pada industri semen di Indonesia. Ia berharap langkah ini diikuti produsen semen lain sehingga bisa mengoptimalisasi pabrik yang ada. "Ini demi efisiensi energi, yang semakin mahal di masa mendatang," ujarnya.
Saat ini pemerintah telah menyusun skema penurunan emisi gas rumah kaca untuk industri semen hingga 12 persen, dari 852 kilogram per ton menjadi 744 kilogram per ton.
AGUNG SEDAYU





