foto

Kindle Fire. Foto: abcnews.go.com

Jor-joran Genjot Kindle, Laba Amazon Anjlok 70 persen  

TEMPO.CO, Sab Fransisco - Gara-gara ngoyo mengembangkan komputer tablet Kindle, kinerja korporasi Amazon terancam jeblok. Laba raja ritel online dunia yang berbasis di Seattle Amerika Serikat ini dilaporkan anjlok hingga 73 persen.



Bloomberg melaporkan, keuntungan Amazon pada kuartal ketiga tahun ini turun dari US$ 231 juta menjadi US$ 63 juta. Terakhir perusahaan ini mengalami kerugian pada kuartal ketiga 2001, dimana keuntungan hanya mencapai US$ 68,9 juta, jauh dari prediksi US$ 150 juta.



Kalangan analis menyatakan, kerugian disebabkan Amazon terlalu bernafsu masuk bisnis komputer tablet. Demi mengejar penjualan Ipad produksi Apple, mereka pun mengobral Kindle dengan harga yang terlalu murah: US$ 199. Bahkan jauh dibawah harga varian Ipad yang paling murah. Perusahaan riset HIS Inc menghitung, Amazon menderita kerugian sebesar US$ 10 dari setiap unit Kindle yang mereka jual.



Sepanjang tiga kuartal pertama tahun ini, Amazon memang cukup ngoyo berinvestasi mengembangkan Kindle. Mereka meluncurkan varian Kindle Fire yang bisa menjalankan aplikasi video streaming dan konten non teks lainnya. Tapi ironis, mereka malah menuai hasil buruk: sahamnya turun 12 persen saat itu.



Namun perusahaan itu berdalih, penjualan Kindle tumbuh 44 persen. Lebih jauh mereka mengklaim tanggal 28 September lalu sebagai hari pemesanan Kindle terbanyak, bahkan jika dibandingkan momen puncak liburan. Saat ini dipasaran tersedia 4 varian Kindle, termasuk model 3G.



Ini pula yang mendorong mereka jor-joran mengucurkan modal. Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon mengatakan dalam 3 pekan setelah diluncurkan, pesanan Kindles langsung melesat dua kali lipat dari stok yang tersedia. “Melihat gairah pasar, kami pun berani meningkatkan investasi dan menambah jutaan dollar lagi untuk membangun lebih dari yang kami rencanakan,” ujarnya.



Collin Sebastian, analis dari firma Robert W Baird & Co mengatakan, upaya Amazon untuk mengejar ketertinggalannya dari Apple akan memakan biaya tinggi. Sebabnya, mereka harus mulai bertransisi dari bisnis media menjadi perusahaan penyedia gadget. “Tak mudah untuk bersaing dengan Apple,” kata dia.



 



FERY FIRMANSYAH