foto

Mithun (11 tahun), berpose di sebuah tambang batu bata di distrik Ratnagiri, sekitar 360km sebelah selatan Mumbai (14/4). Dia di bayar dua rupee ($ 0,04) per bata dan membawa rata-rata 100 bata keluar dari tambang setiap hari. REUTERS / Danish Siddiqui

Pekerjaan Rumah Kemenakertras Atasi Pekerja Anak

TEMPO.CO, Jakarta -Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mendapat tugas khusus dari Wakil Presiden Boediono. Kementerian yang dijaga Muhaimin Iskandar ini harus mengembalikan pekerja anak dan anak jalanan ke sekolah.



"Targetnya sampai 2012 mengembalikan 10.750 anak jalanan ke sekolah," kata Muhaimin dalam rapat pleno Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan di kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa 25 Oktober 2011.

Muhaimin mengatakan salah satu cara penyelesaiannya adalah layanan rumah singgah (shelter) bagi anak jalanan dan pekerja anak. Muhaimin sudah menyusun program Penarikan Pekerja Anak dan memantau anak-anak jalanan masuk satuan pendidikan sesuai minat dan kemampuannya.

Pemerintah menaikkan target penerima Program Keluarga Harapan sebagai bagian dari program penanggulangan kemiskinan. Target penerima program ini pada 2011 adalah 1,16 juta keluarga dan ditingkatkan menjadi 1,5 juta pada 2012, lalu 2,4 juta pada 2013 dan 3 juta pada 2014.

Wakil Presiden Boediono mengatakan tantangan pencapaian target itu adalah koordinasi antar kementerian dan lembaga pemerintah. Jika target tiga juta keluarga penerima program tercapai, pemerintah melayani 1,7 juta balita, 3 juta anak usia sekolah dasar, 1,1 juta anak usia sekolah menengah pertama dan 100.000 ibu hamil.

"Cara memudahkan koordinasi dengan tersedianya data yang terintegrasi dengan baik sebagai dasar pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan, termasuk PKH. Data yang terpusat ini juga dapat berfungsi sebagai titik sentral koordinasi," katanya.

Nantinya pelaksananaan program penanggulangan kemiskinan memang bisa dilakukan di daerah, tetapi lebih fokus karena data yang digunakan satu dan terpusat. Masing-masing instansi tidak akan memiliki data sendiri-sendiri. "Data yang terpusat ini sistem pembaharuannya (updating-nya) harus jelas," kata Boediono.

KARTIKA CANDRA