susu. foto.topnews.in
Topik
Korban Keracunan Bertambah, Pembagian Susu ''Bupati'' Dihentikan
TEMPO.CO, Kediri - Kepolisian Resor Kediri didesak menetapkan tersangka dalam kasus keracunan susu yang menimpa ratusan siswa sekolah dasar. Hari ini delapan siswa kembali terkapar setelah mengkonsumsi susu merek Jenius yang diproduksi perusahaan milik Bupati Haryanti Sutrisno.
Direktur lembaga swadaya masyarakat Alha-Raka Kediri, Munasir Huda, mengatakan kasus keracunan susu yang menimpa pelajar SD sudah tak bisa ditolerir. Sejak diberikan kepada pelajar SD sebagai program perbaikan gizi oleh Pemerintah Kediri tahun 2006 silam, susu ini telah meracuni ratusan siswa. "Harus ada tersangka dalam peristiwa ini," kata Huda, Rabu, 26 Oktober 2011.
Pengusutan kasus serupa yang dilakukan kepolisian, menurut Huda, tidak pernah tuntas. Bahkan, hingga saat ini polisi belum pernah mengungkap pihak yang paling bertanggung jawab dalam setiap kasus keracunan. Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya intervensi Bupati Haryanti dalam penyidikan itu selaku pemilik pabrik susu Jenius. Apalagi pemerintah daerah juga berkukuh tetap mempertahankan produk tersebut sebagai program perbaikan gizi pelajar di pedesaan.
Wakil Kepala Kepolisian Resor Kediri Komisaris Muhammad Anwar menegaskan telah memeriksa sejumlah saksi dalam keracunan itu. Saat ini sisa susu Jenius yang dikonsumsi siswa juga diperiksa di laboratorium forensik Polda Jawa Timur dan laboratorium Dinas Kesehatan Jatim. "Dari situ akan diketahui penyebab keracunannya," kata Anwar.
Untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak, Polres Kediri akan mengirimkan surat kepada produsen susu Jenius agar menghentikan pemberian susu kepada siswa.
Sementara korban keracunan susu Jenius terus berjatuhan. Hari ini sebanyak delapan siswa SDN 1 Kayunan, Kecamatan Plosoklaten, dirawat di puskesmas usai meminum susu Jenius yang diberikan Pemkab. Mereka adalah siswa kelas VI yang mendapat jatah bantuan susu untuk perbaikan gizi. "Anak-anak kesakitan setelah meminum susu Jenius," kata Kepala Sekolah SDN 1 Kayunan Sujoko.
Situasi pabrik susu Jenius di Desa Sumberjo, Kecamatan Ngasem, sendiri tampak terkunci rapat. Seorang pegawai pabrik menolak membuka pintu saat didatangi Tempo pagi tadi. "Tidak ada bos," kata pegawai yang mengaku bernama Ronal sambil mengunci gerbang.
Kepala Bagian Kesra Pemkab Kediri, Mujahid, menyatakan akan mengevaluasi program ini setelah banyak jatuh korban. Pihaknya masih mempertahankan produsen Jenius sebagai rekanan karena hasil pemeriksaan laboratorium masih di bawah ambang. "Kalau hasil evaluasi berbahaya, akan kami hentikan," katanya singkat.
HARI TRI WASONO





