Topik
Terima Rp 25 Juta, Korban Malpraktek Urung Tuntut RS Haji
TEMPO.CO, Jakarta --Korban malpraktek operasi patah kaki Rumah Sakit Haji Jakarta, Syaripudin Pane, 43 tahun, mengubur niatnya membawa kasusnya ke pengadilan. Manajemen rumah sakit memberinya Rp 25 juta sebagai uang empati.
Angka itu cuma separuh dari jumlah nominal yang dituntut Syaripudin, yakni Rp 50 juta. "Saya mengalah untuk kebaikan," kata Syaripudin, saat jumpa media, di Rumah Sakit Haji Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2011.
Menurutnya, membawa kasus ini ke jalur hukum akan memakan waktu. Ia menyadari, menuntut dokter bukan perkara gampang. "Kasus saya pasti terbantahkan," katanya.
Sebelumnya, Syaripudin semangat mengangkat kasus malpraktek pen bekas itu ke media. Pasalnya, dokter Siki Kawiana dari Rumah Sakit Surya Husada Hospital di Bali, mengatakan pen di kakinya adalah bekas. Pernyataan dokter Siki didengarnya sendiri saat operasi pengangkatan pen tahun lalu.
"Namun surat rekomendasi dokter Siki ke Rumah Sakit Haji justru sebaliknya. Dokter Siki pasti melindungi sejawatnya," katanya, beberapa waktu lalu.
Ia sendiri sepakat kasusnya dengan manajemen dan tim dokter selesai. Ia juga sepakat tidak menuntut apapun di kemudian hari. "Kalau rumah sakit ini tercemar akibat pemberitaan, saya merasa berdosa. Pekerjanya banyak tetangga saya," kata Syaripudin, yang tinggal tidak jauh dari rumah sakit.
Uang empati itu akan diperuntukan buat kerabatnya yang dililit hutang. "Ya. Uang ini akan diberikan ke saudara saya yang yatim bukan buat saya."
Kuasa Hukum Rumah Sakit Haji Jakarta, Fauzie Yusuf Hasibuan, mengatakan, sangkaan Syaripudin hanya salah paham. "Fakta pen bekas itu tidak terjadi. Miskomunikasi saja," ujarnya di kesempatan sama.
Disinggung apa saja fakta bantahan malpraktek itu, Fauzie tidak bisa menjawab. Ia beralibi penjelasan itu bersifat teknis dan bukan kompetensinya. Menurutnya lagi, pemberian uang empati bukan berarti pihaknya yang salah.
Sebelumnya, Syaripudin berniat menuntut dokter Agus Pujo dan dokter Rizal. Keduanya melakukan operasi pemasangan pen di kakinya yang patah pada September 2010.Bekas operasinya memburuk selang dua pekan. Dari lokasi bekas operasi, keluar nanah dan darah.
HERU TRIYONO





