foto

Sejumlah polisi lalu lintas (Polantas) menindak dan menilang pengendara motor yang melanggar peraturan dalam sebuah operasi di Jakarta. TEMPO/ Tony Hartawan

Warga Diminta Tak Beri Uang ke Polisi

TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar meminta masyarakat tidak memberikan uang sepeserpun kepada polisi yang bertugas di lapangan.



Imbauan ini menanggapi Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, yang mengeluhkan banyaknya polisi meminta duit. Di Jakarta, kata Neta, ada 40 titik yang sering dipakai aksi pungutan liar polisi. "Masyarakat jangan berikan uang ke polisi.  Ini bisa menjadikan polisi tidak baik dan lalu lintas tidak tertib," kata Baharudin, Kamis, 27 Oktober 2011.

Menurut Baharudin, Polda sudah menurunkan intelijen serta anggota Divisi Profesi dan Pengamanan. Mereka melakukan operasi bersih memantau petutas yang menyeleweng di lapangan. Operasi tersebut tidak akan berhasil bila ada masyarakat yang masih memberikan uang ke polisi. "Polisi di mana-mana boleh. Yang tidak boleh, menerima uang dari masyarakat."

Bila masih ada polisi yang meminta uang, Baharudin meminta masyarakat mengambil foto dan mencatat nama petugas tersebut. Selanjutnya, kata dia, penduduk melaporkan temuan itu ke Polda Metro Jaya. "Akan kami tindak," kata dia.

Menurut Neta, lokasi itu umumnya dijadikan jebakan oknum polisi lalu lintas. Aksi jebakan dan pungutan liar itu seolah dibiarkan.  Titik-titik jebakan ini tersebar hampir di seluruh jalur busway, flyover, dan underpass. Oknum polisi ini kerap tidak mengurai kemacetan, tetapi membiarkan kemacetan di jalan. Ketika para pengendara mengalami frustasi dan masuk ke jalur busway atau flyover, sudah ada polisi yang menunggu di tempat tertentu.



 



"Modusnya ancaman tilang, tapi sebenarnya diarahkan pada situasi agar pengendara membayar dengan istilah ''damai''," kata Neta.

CORNILA DESYANA