Kendaraan terjebak kemacetan akibat penyempitan jalur lambat yang digunakan untuk pembangunan saluran air di Jalan Jend.Sudirman, Jakarta, Jumat (21/10). TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Topik
Proyek Sudirman, Kontraktor Dinilai Lalai
TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, mengatakan pelaksanaan proyek gorong-gorong di Jalan Sudirman, Jakarta, telah mengabaikan kepentingan masyarakat. Hal itu dikatakan karena proyek ini sudah mengambil separuh jalan protokol yang menjadi denyut nadi bisnis di Jakarta. "Jalan Sudirman kan jalur utama Kota Jakarta," kata Yayat saat dihubungi Tempo, Kamis, 29 Oktober 2011.
Menurut Yayat, kontraktor proyek telah lalai karena sebelum pekerjaan dimulai, tidak ada sosialisasi yang dilakukan kepada pengguna jalan. Seharusnya, kata Yayat, disediakan jalan alternatif untuk menopang kelancaran lalu lintas. Kontraktor juga tidak melakukan koordinasi dengan pihak polisi agar ada solusi yang baik. "Sekarang polisi pun ingin melakukan somasi," katanya.
Kontraktor membuat gorong-gorong baru karena yang lama sudah tidak cocok lagi. Namun dalam pelaksanaannya, kontraktor tidak mempersiapkan kelengkapan alat untuk mencegah kemungkinan yang akan terjadi, seperti rambu-rambu jalan. "Kalau itu tidak dipasang, berbahaya sekali," imbuh Yayat.
Sebelumnya, Kepolisian Daerah Metro Jaya sudah mengirim surat somasi kepada PT Idee Murni Pratama selaku pelaksana proyek gorong-gorong di Jalan Sudirman pekan lalu, namun kondisinya dianggap tidak berubah. Rencananya, surat keberatan kedua akan dikirimkan lagi dan akan di tembuskan ke Pemerintah Provinsi DKI.
Proyek gorong-gorong ini sudah membabat satu jalur lambat di Jalan Sudirman sehingga menambah parah kemacetan. Keluhan dari sejumlah pengguna jalan selalu terdengar karena kemacetan semakin menjadi di ruas jalan itu.
Proyek ini juga membuat pejalan kaki terganggu. Ruang bagi pejalan kaki juga tak disisakan karena trotoar penuh terpakai. Penumpang bisa juga kesulitan turun-naik karena terhalang tumpukan tanah. Sejumlah bus bahkan menggunakan jalur cepat sehingga penumpang turun dan naik di jalur itu.
ILHAM





