foto

TEMPO/Dasril Roszandi

Ikuti Mata Uang Asing, Rupiah Menguat Tipis  

TEMPO.CO, Jakarta - Dalam dua pekan terakhir, rupiah bergerak datar di kisaran 8.800 hingga 8.920 per dolar Amerika Serikat (AS). Keadaan ini terjadi setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga 25 basis poin menjadi 6,5 persen.

Masih adanya ketidakpastian terhadap proses penyelesaian krisis Eropa membuat kenaikan harga saham belum mampu mendorong apresiasi rupiah. Nilai tukar rupiah di transaksi pasar uang sore ini, Kamis, 27 Oktober 2011, ditutup menguat 35 poin (0,39 persen) ke posisi 8.838 per dolar AS.

Pengamat pasar uang dari PT Monex Investindo Futures, Apelles R.T. Kawengian, mengungkapkan, indeks yang naik cukup signifikan hingga ke level 3.800 belum mampu diikuti oleh rupiah. Karena naiknya harga saham sepanjang bulan ini didorong oleh dana asing yang keluar beberapa waktu lalu. “Bukannya karena masuknya aliran dana asing dari luar,” kata Apelles.

Tertahannya apresiasi rupiah dari indeks saham akibat dari kebijakan BI yang memangkas suku bunganya awal bulan lalu. Sehingga jatuhnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia belum mampu dimanfaatkan oleh mata uang lokal. Sedangkan permintaaan dolar AS oleh korporat juga belum ada tanda peningkatan yang signifikan.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia hingga sore ini kembali melemah 0,591 poin (0,78 persen) ke level 75,655. Namun rupiah masih tetap tertahan di atas 8.800 per dolar AS.

Dari kawasan Asia, dolar Singapura sore ini ditutup menguat 1,35 persen menjadi 1,2535 per dolar AS, won Korea Selatan menguat 1,52 persen ke 1.115,22, peso Filipina naik 0,94 persen ke 42,8175, ringgit Malaysia menguat 1,06 persen ke 3,1093, serta bath Thailand juga terapresiasi 0,54 persen ke level 30,6250 per dolar AS.

VIVA B. KUSNANDAR