foto

TEMPO/Prima Mulia

Konsumsi Tepung Terigu Nasional Melambat  

TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Tepung Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) memperkirakan konsumsi tepung terigu hingga akhir tahun ini naik mencapai 6 persen dibanding tahun lalu. Namun, kenaikan konsumsi tahun ini lebih rendah dibanding persentase kenaikan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai 10 persen.

Dari Januari hingga September tahun ini, konsumsi tepung terigu nasional sebesar 3.468.640 ton atau naik 5,81 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tahun lalu dari Januari-September konsumsi sebesar 3.267.000 ton.

“Konsumsi tepung terigu dalam negeri lambat pertumbuhannya. Ini akibat pemerintah menerapkan PMK 241. Jadi, barang-barang impor seperti biskuit banyak masuk ke Indonesia dan membuat industri dalam negeri turun sehingga penyerapan tepung rendah,” ungkap Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies di sela seminar internasional ketahanan pangan, di Botani Square, Bogor, Kamis, 27 Oktober 2011.

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 241 tahun 2010 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor membuat beban industri dalam negeri terus bertambah. Bagi industri tepung terigu, kata dia, ini membuat perlambatan pertumbuhan sebab bea masuk produk turunan terigu menjadi rendah dari 10 persen menjadi 5 persen sehingga volume impor lebih tinggi.

Tiap tahun, rata-rata kebutuhan tepung terigu mencapai 3,9 juta ton. Kebutuhan akan tepung terigu tersebut selain dipenuhi dari produksi dalam negeri juga dipenuhi dari impor. Volume impor tepung terigu Indonesia tahun lalu mencapai 750 ribu ton dan sebanyak 600 ribu ton dipenuhi dari Turki.

Menurut data Badan Pusat Statistik, impor tepung terigu dari Januari-Agustus tahun ini sudah mencapai 433.429 ton. Dari jumlah itu sebanyak 231.649 berasal dari Turki.

Ratna melanjutkan, tingkat konsumsi terigu nasional saat ini naik dari 17,1 kilogram per kapita per tahun menjadi 18 kilogram per kapita per tahun. Harga tepung terigu impor dari Turki memang lebih murah dibanding dari negara lain. Sebagai perbandingan, harga tepung terigu Srilangka US$ 500 per ton, Australia US$ 491 per ton, sedangkan tepung terigu Turki US$ 360 per ton. “Selama ini Indonesia mengimpor tepung terigu, di antaranya dari Turki, Australia, Amerika,” ujarnya.

ROSALINA