Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Abdurrahman Mohammed Amen al-Khayyath. TEMPO/Imam Sukamto
Topik
Nayef Calon Kuat Putra Mahkota Arab Saudi
TEMPO.CO, RIYADH:-- Dunia kini menantikan bakal calon ahli waris takhta Kerajaan Arab Saudi selepas wafatnya putra mahkota Sultan bin Abdul-Aziz Al Saud. Pangeran Sultan wafat di New York, Amerika Serikat, pada usia 80 tahun, Sabtu lalu. Sejauh ini, disebut-sebut Pangeran Nayef sebagai calon kuat putra mahkota yang kelak bakal menggantikan Raja Abdullah, 90 tahun.
Pangeran Nayef, yang dilahirkan pada 1933, selama bertahun-tahun sudah terlihat seperti putra mahkota baru. "Kami perlu darah muda," kata seorang warga Jeddah yang berusia sekitar 50 tahun. "Jika mereka memilih putra mahkota lagi dari (generasi ini), maka Arab Saudi akan tetap jalan di tempat dalam beberapa tahun karena mereka semua sudah uzur."
Penilaian Nayef sebagai orang konservatif muncul setelah dia menangkap beberapa aktivis politik dan membuat resah kelompok liberal. Namun beberapa mantan diplomat di Saudi dan sejumlah analis mengatakan bahwa Pangeran Nayef, yang menjabat Menteri Dalam Negeri sejak 1975, bisa saja berubah menjadi lebih pragmatis.
"Jika ia dipilih menjadi putra mahkota dan mungkin juga sebagai raja," kata seorang bekas diplomat di Riyadh seperti dikutip Reuters. Sebab, "Nayef beberapa kali menggantikan Sultan, yang sering sakit, berperan sebagai putra mahkota dan bahkan sebagai raja."
Selain itu, kata dia, Nayef sudah terbiasa pula memegang kekuasaan di luar negeri.
Karena itu, banyak yang menduga stabilitas negeri pengekspor minyak bumi terbesar di dunia ini akan memasuki babak baru bila Pangeran Nayef terpilih. Tak mengherankan bila proses pemakaman Pangeran Sultan bin Abdul Aziz pada Selasa lalu disebut-sebut menjadi momen bagi Raja Abdullah untuk mengumumkan pengganti adiknya itu.
"Dalam konteks sistem politik, momen penguburan ini sangat penting," kata Ketua Ekonom Bank Komersial Nasional, Jarmo Kotilaine, di Jeddah. "Tapi sistem di negara sekutu Amerika Serikat ini menjamin adanya keberlanjutan." Katanya ekonomi tetap menjadi agenda utama di negara ini untuk waktu yang lama. "Hal tersebut rasanya tidak akan berubah."
Dalam enam tahun masa kepemimpinannya, Raja Abdullah telah mendorong perubahan dengan kebijakan liberalisasi pasar untuk menciptakan pekerjaan. Ia juga melonggarkan pengaruh kelompok religius garis keras atas pendidikan dan kebijakan sosial. Salah satunya adalah mengizinkan kaum Hawa mengikuti pemilihan umum mulai 2015.
"Saya tidak berpikir Arab Saudi akan berubah secara substansial," kata seorang kolumnis negara itu, Hossein Shobokshi. Karena itu, dia yakin Nayef tak akan membuat perubahan yang besar sekalipun memiliki pandangan yang konservatif. "Negara ini selalu memilih cara yang tak mengejutkan. Tapi saya tak bisa memprediksi."
| AP | REUTERS | ANDREE PRIYANTO





