foto

TEMPO/ Gunawan Wicaksono

Lagi, Survei Sebut Dukungan Demokrat Anjlok  

TEMPO.CO, Jakarta - Perolehan suara bagi Partai Demokrat turun lebih dari 64 persen di DKI Jakarta. Data ini didapatkan dari survei Political Research Institute for Democracy (PRIDE) pada 500 koresponden usia wajib pilih, 17 tahun ke atas, dengan metode multistage random sampling yang dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2011.

Data ini memang tidak menggambarkan situasi dukungan secara nasional, namun dapat menjadi barometer. "Turunnya dukungan terkait tingkat kepercayaan atas terlibatnya anggota-anggota partai yang terkait korupsi," kata periset PRIDE, Agus Herta Sumarto, Jumat, 28 Oktober 2011.

Data ini merupakan hasil survei longitudinal tahun 2010 dan 2011 dengan margin of error sebesar 4,4 persen pada derajat kepercayaan hingga 95 persen. Dalam data ini, Partai Demokrat tercatat memiliki dukungan hingga 28,1 persen di tahun 2010 dan turun menjadi 10,3 persen pada tahun ini. "Kasus wisma atlet yang melibatkan beberapa kader, seperti Nazaruddin dan Anas, menjadi penyebab," kata Agus.

Sama seperti Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera juga mengalami penurunan yang signifikan. Agus menyatakan, hal ini juga terkait turunnya kepercayaan akibat beberapa kader PKS yang justru tidak sesuai dengan semangat partai. "Semakin partai ini mengacungkan suatu semangat seperti antikorupsi atau religius, saat ada anggotanya melanggar, maka masyarakat otomatis akan meninggalkan," katanya.

Sedangkan dukungan kepada beberapa partai lain nampak tidak berubah secara signifikan. Tercatat penurunan suara PDIP dari 9,3 persen menjadi 9,1 persen, PAN dari 1,5 persen menjadi 3,8 persen, PPP dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen, dan PKB dari 1,0 persen menjadi 0,9 persen.

Hal lain terjadi pada Partai Golongan Karya yang suaranya mengalami peningkatan dari 4,6 persen menjadi 7,9 persen. "Banyak suara dari Demokrat yang mungkin bergeser ke Golkar," kata Agus.

Penurunan suara sejumlah partai ini memperbesar jumlah yang masuk ke dalam kategori masyarakat yang tidak dapat menjawab atau bingung untuk memilih. Jumlah masyarakat yang tidak bisa menjawab naik dari 35,3 persen menjadi 45,2 persen. "Ditambah lagi ada 11,4 persen yang melegitimasi sebagai golput,"kata Agus.

FRANSISCO ROSARIANS