foto

TEMPO/Aditia Noviansyah

Rupiah Kian Dekati Level 8.800  

TEMPO Interaktif, Jakarta - Meningkatnya optimisme para pelaku pasar atas tercapainya kesepakatan para petinggi negara-negara Eropa dalam menyelesaikan krisis utang telah mendongkrak apresiasi rupiah.

Positifnya bursa dan mata uang Asia juga turut menopang rupiah kian mendekati level 8.800 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam transaksi pasar uang hari ini, Jumat, 28 Oktober 2011, nilai tukar rupiah ditutup kembali menguat 21 poin (0,22 persen) ke posisi 8.815 per dolar AS.

Kepala Riset Treasury Bank BNI, Nurul Eti Nurbaeti menjelaskan, perkembangan penanganan krisis utang Eropa mendorong para pelaku pasar kembali memburu aset dalam mata uang regional yang berimbal hasil tinggi. “Hal ini yang membuat rupiah kembali menguat,” kata Nurul.

Positifnya pasar finansial Asia serta menguatnya rupiah di bawah 8.800 kembali mendorong penguatan mata uang lokal. Melemahnya dolar AS serta antisipasi keluarnya data inflasi pekan depan masih memberikan dukungan bagi penguatan rupiah.

Diturunkannya suku bunga BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,5 persen bukan menjadi penyebab masih tertahannya rupiah di atas 8.800 per dolar AS. “Sebab, setelah diturunkannya BI rate, rupiah justru cenderung menguat,” tutur Nurul.

Suku BI rate sebesar 6,5 persen, sedangkan suku bunga The Fed hanya 0,25 persen sehingga selisih suku bunga antara rupiah dan dolar AS juga masih sangat lebar. Penurunan suku bunga oleh bank sentral awal pekan lalu bertujuan untuk memberikan stimulus bagi sektor riil sehingga bisa memacu pertumbuhan ekonomi.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang rival utamanya hingga sore ini, pukul 17.20 WIB, menguat 0,176 poin (0,24 persen). Mata uang Korea Selatan, won, sore ini juga ditutup menguat 0,93 persen, peso Philipina terapresiasi 0,44 persen, serta ringgit Malaysia juga menguat 1,27 persen. Sedangkan dolar Singapura melemah tipis 0,08 persen, serta bath Thailand juga melemah 0,2 persen.

VIVA B. KUSNANDAR