foto

Areal industri Rojana di provinsi Ayutthaya, Thailand, Sabtu (15/10). Banjir besar terjadi sejak akhir Juli menenggelamkan dua pertiga negara yang menelan lahan pertanian dan jalan raya dengan kerugian mencapai $ 3 miliar dolar. AP Photo

Ribuan Tentara Dikerahkan Evakuasi Bangkok

TEMPO.CO, BANGKOK - Sekitar 10 ribu warga Bangkok mulai meninggalkan kota, Kamis 27 Oktober 2011. Selain memadati terminal bus utama Mo Chit menuju kawasan selatan Thailand, warga dengan kendaraan pribadi membuat macet jalan tol ke luar Bangkok ke arah selatan Thailand yang bebas air bah. Kondisi serupa juga dapat dijumpai di bandara utama Bangkok, Suvarnabhumi.

Di kawasan Hua Hin dan Pattaya, hotel dan rumah sewaan telah penuh dipesan. “Kami menuju Hua Hin karena situasi sudah sulit. Kami akan menginap selama tiga hari sembari terus memantau. Jika kondisi memburuk, kami akan bertahan di Hua Hin,” kata warga Bangkok, Pornchai Tangsuwongthai, kepada stasiun televisi Reuters.

Juru bicara Departemen Pertahanan, Kolonel Thanathip, mengungkapkan bahwa 50 ribu tentara beserta 1.000 perahu dan 1.000 truk dikerahkan untuk membantu evakuasi. Gubernur Bangkok Sukhumbhand Paribatra dalam kesempatan terpisah menyatakan distrik Sai Mai mulai terendam banjir dan segera mengevakuasi warga.

Kondisi di Bangkok memang mendekati titik kritis. Hal ini diungkapkan oleh Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra. “Kami sedang berperang melawan kekuatan alam. Debit air yang sangat besar telah merusak beberapa tanggul besar kami,” Yingluck mengeluh.

Hasil pencitraan dari satelit menunjukkan hampir seluruh Kota Bangkok digenangi air. Massa air yang sangat besar dari utara mengalir menuju Bangkok dan berakhir di Teluk Thailand. “Sejujurnya, kita harus membiarkan air mengalir ke laut secepat mungkin dan menghadapi konsekuensinya. Jika tidak, semua orang akan sengsara,” ia menambahkan dengan mata berkaca-kaca.

L REUTERS | BANGKOK POST | THE NATION | IRRAWADY| SITA PLANASARI A.