Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. ANTARA/Prasetyo Utomo
Topik
Akasia Berbuah Haji
TEMPO.CO, Bangkalan - Menanam pohon tidak hanya melestarikan lingkungan dan mencegah banjir, tetapi juga bisa buat naik haji. Tak percaya? Haji Deman, warga Desa Geger, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, membuktikannya.
Sebagai anak desa yang lahir dari keluarga kurang mampu, Haji Deman hanya mendapat warisan sawah dari orang tuanya. Jangankan berpikir buat naik haji, hasil buminya hanya cukup dimakan sehari-hari.
Tapi ternyata selain sawah, orang tua Haji Deman telah "berinvestasi" jangka panjang lewat menanam pohon akasia di kebun miliknya. Semula tujuannya untuk mencegah terjadinya longsor yang kerap menghantui warga Desa Geger.
Namun, siapa menyangka, setelah 25 tahun, sepeninggal orang tuanya, Haji Deman malah ketiban rejeki. Dua batang pohon akasia warisan orang tuanya itu laku terjual sebesar Rp 70 juta. Tahun 2009, impian naik hajinya pun tercapai.
"Menanam pohon juga mendatangkan manfaat secara ekonomi," kata Ali Rofi''i, menantu Haji Deman, kepada Tempo, Kamis, 27 Oktober 2011 kemarin.
Haji Deman, bukan satu-satunya orang yang dijuluki Haji Akasia di Desa Geger. "Kalau enggak salah, ada 10 warga sini yang naik haji berkat jual akasianya," kata Ketua Kelompok Tani Potre Koneng Desa Geger, Nurul Huda.
Menurut Huda, mereka yang naik haji, semuanya bukan penanam pohon akasia tersebut. Mereka hanyalah ahli waris. Fakta ini, kata dia, membuat warga Desa Geger sadar bahwa hutan yang lestari bisa menjadi investasi jangka panjang yang tak akan habis sampai tujuh turunan.
"Saya juga nanam akasia, di lahan seluas dua hektar, sebanyak 600 pohon, buat anak cucu saya nanti," tutur Huda.
Hutan rakyat di Desa Geger memiliki luas 945 hektar. Mayoritas ditanami jati, akasia, dan mahoni. Jerih payah warga Geger melestarikan lingkungannya berbuah manis. Tahun lalu, hutan rakyat Desa Geger dan Desa Kombengan serta Desa Togubeng berhasil mendapat sertifikat ekolabel.
MUSTHOFA BISRI





