Pelajar Sidiarjo Buat Film Dokumenter Korban Lapindo

TEMPO.CO, Sidoarjo - Hisyam Fakhrul Ulum, 18 tahun,  siswa kelas 9 jurusan multimedia Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Jabon Kabupaten Sidoarjo menenteng kamera video, kemarin. Ia mengamati dan merekam aktivitas sekolah Madrasah Ibtida''iyah yang terletak di sudut Desa Besuki Kecamatan Jabon. Ia bersama delapan teman lainnya tengah membuat film dokumenter tentang penderitaan korban lumpur Lapindo.

"Banyak siswa sekolah yang terancam putus sekolah," katanya. Salah satunya, Nasihudin yang kesulitan biaya sekolah sejak Sutikno, orangtuanya mengangur. Awalnya, Sutikno bekerja sebagai penambang pasir di kali porong. Sutikno menganggur sejak lumpur dialirkan ke kali Porong.

Lantaran, seluruh badan sungai dipenuhi lumpur Lapindo. Sehingga, Sutikno dan penambang pasir lainnya kehilangan pekerjaan. Sejak luapan lumpur banyak korban yang kehilangan pekerjaan. Termasuk para petani dan buruh pabrik, lumpur telah menenggelamkan sawah dan pabrik di Porong, Jabon dan Tanggulangin.

Film yang berdurasi sekitar 15 menit ini mengambil setting lokasi semburan lumpur Lapindo. Serta pemukiman warga korban Lapindo dan aksi warga memperjuangkan nasib atas ganti rugi lahan dan aset. "Film ini merupakan sumbangsih para pelajar bagi korban lumpur Lapindo," kata Hisyam.

Sementaraitu, Wahana Lingkungan Hidup, Walhi Jawa Timur mengumpulkan donasi bagi korban lumpur Lapindo di berbagai daerah. Disela pengumpulan donasi, anak korban lumpur Lapindo memamerkan lukisan dan foto hasil karyanya. Hasil penggalan dana ini akan diserahkan bagi 212 siswa anak korban Lapindo yang kesulitan biaya pendidikan.

Direktur Walhi Jatim, Bambang Catur Nusantara menjelaskan untuk memenuhi biaya pendidikan dibutuhkan dana sebesar Rp 52 juta. Jumlah anak korban lumpur Lapindo yang kesulitan biaya pendidikan membengkak dari semula 80 an siswa. "Orang tua mereka mengalami kesulitan, sumber produksi mereka seperti sawah terkena dampak lumpur," katanya.

Bambang menambahkan, seluruh dana yang terkumpul diserahkan kepada anak korban lumpur Lapindo. Diantaranya, untuk membayar biaya pendidikan, seragam sekolah dan buku pelajaran.



 



EKO WIDIANTO