foto

Ojek payung mereka saat hujan deras di Jakarta, (Tempo/Panca Syurkani)

Bocah Pengojek Payung Tewas Kesetrum

TEMPO.CO, Jakarta - Bocah pengojek payung, Ahmad Ario, 13 tahun, tewas kesetrum listrik saat berteduh di pos jaga parkir Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Budhi Asih, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat, 28 Oktober 2011, pukul 19.10 WIB. Ario tewas dengan kondisi sebagian tubuhnya menghitam. Saat kejadian, cuaca Ibu Kota sedang hujan deras.

"Dia menanti orang yang mau ngojek, neduh di Rumah Sakit Budhi Asih," ujar bibi korban, Vivi, 25 tahun, di rumah duka, Gang Budi, RT 09 RW 03, Nomor 7, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat, 28 Oktober 2011.

Vivi menceritakan, bocah kelas I SMP Negeri 150 Kramat Jati itu pamit ke keluarga untuk mengojek payung bersama Gema, 13 tahun, teman mainnya. Menurutnya, keduanya biasa mencari pelanggan yang masuk dan keluar dari RSUD Budhi Asih.

Karena belum mendapat pelanggan, Ario dan Gema berteduh di pos jaga parkir yang sudah tak terpakai. Pos itu berada di depan Ruang Unit Gawat Darurat RSUD Budhi Asih. Saat baru masuk bilik pos, kata Vivi, Ario kesetrum. Itu diduga karena ada kabel listrik terkelupas dan mengenai air yang menggenang.

Menurut Vivi, berdasarkan cerita warga sekitar, Ario sontak terkejut dan berteriak saat itu. Tubuhnya kejang dan terempas ke tanah. Warga sekitar dan petugas keamanan RSUD Budhi Asih menggunakan ikat pinggang untuk menarik Ario dari pos. Naas, nyawa Ario tidak tertolong meski langsung dibawa ke ruang unit gawat darurat rumah sakit.

Jenazah Ario kemudian divisum untuk kepentingan penyelidikan. Menurut Vivi, pihak keluarga belum memutuskan apa akan menuntut RSUD Budhi Asih atau tidak. Yang pasti, lanjut Vivi, pihak keluarga menyayangkan rumah sakit yang membiarkan kabel terkelupas teraliri listrik di pos parkir yang tak terpakai itu.

Kepala Kepolisian Sektor Metro Kramat Jati, Komisaris Imran Gultom, mengatakan pihaknya menunggu hasil visum jenazah Ario dan masih melakukan pemeriksaan saksi. Menurutnya, polisi belum dapat menyimpulkan tewasnya Ario akibat kelalaian pihak rumah sakit atau bukan. "Namun jika ada unsur itu, polisi akan mengusut kasus ini lebih jauh," katanya saat dihubungi, Sabtu, 29 Oktober 2011, pagi.

Kepala Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih, Hamonangan Sirait, mengatakan telah mengetahui kejadian itu. Menurutnya, korban sudah meninggal dunia sebelum dibawa ke UGD.

"Dokter menemukan sejumlah luka di kaki. Diduga aliran listrik menyentuh kaki korban terlebih dahulu," ujarnya di kesempatan terpisah, Jumat, 28 Oktober 2011 malam. Meski begitu, tambah dia, kesimpulan itu baru sebatas dugaan. "Penyebab pastinya harus melihat dan menunggu hasil otopsi," kata Hamonangan.

Bilik maut pos parkir itu, kata dia, akan diperiksa untuk diperbaiki. Pihaknya akan mencari sumber aliran listrik yang diduga merenggut nyawa Ario. "Apakah itu force majeure, kesalahan prosedur, atau yang lain, baru bisa diketahui setelah pemeriksaan," katanya. Pihak rumah sakit siap bertanggung jawab jika memang ada kesalahan atau kelalaian.

Ario merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Haryanto, 43 tahun, dan Ita, 32 tahun. Ayah Ario, Haryanto, cuma montir perusahaan Otobus Kramat Djati. Sementara ibunya, Ita, merupakan ibu rumah tangga. Untuk menambah uang jajan dan bayar iuran sekolah, Ario kerap mengojek payung.

HERU TRIYONO