Megawati Soekarno Putri. TEMPO/Imam Sukamto
Topik
Soal Calon Presiden PDI Perjuangan, Ini Jawaban Megawati
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarno Putri enggan menegaskan apakah dirinya akan kembali maju atau tidak dalam pemilihan presiden 2014 nanti. Dalam dialog dengan finalis Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Kehidupan Bangsa di kediamannya, Megawati mengelak saat ditanya seorang finalis, M. Yusri, dari SMA Negeri I Gunung Talang, Sumatera Barat. "Ahhhhh....Masih jauh gitu, ya," ujarnya saat silaturahmi di kediamannya, Sabtu, 29 Oktober 2011.
M. Yusri, yang merupakan siswa kelas XI SMA Negeri I Gunung Talang, juga menanyakan soal kiat Megawati sampai dapat menduduki kursi wakil presiden dan calon presiden. Mega pun bercerita panjang soal perjalanan hidupnya.
Menurut Mega, dirinya menjadi presiden kelima Republik Indonesia karena perjuangannya yang tak kenal lelah. Semangat perjuangan itu, menurutnya, merupakan hasil didikan dari kedua orang tuanya, proklamator Soekarno dan ibu negara pertama, Fatmawati.
"Orang tua saya semuanya pemimpin bangsa. Bapak saya, Ir Soekarno, itu proklamator, ibu saya, Fatmawati, itu perintis kemerdekaan. Bendera pusaka itu yang menjahit ibu saya," tuturnya.
Mega menuturkan, menjadi seorang presiden itu merupakan perjuangan sebagai wujud cintanya kepada Tanah Air. Ia mengatakan, Soekarno mengajarkannya untuk terus memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.
Semasa ia kecil, ia mengaku kerap berseteru dengan Guntur Soekarno Putra. Namun perseteruan itu bukan tanpa alasan. "Kalau saya misalnya dilarang melakukan ini, saya lawan. Kenapa saya dilarang? Apa alasannya? Jadi, orang tua saya itu memang mengajarkan untuk memperjuangkan sesuatu yang benar," ujarnya.
Menurut Mega, dirinya sempat dilecehkan ketika hendak maju sebagai presiden. "Saya dibilang, mana bisa seorang perempuan jadi presiden, saya marah besar, saya lawan, akhirnya saya jadi presiden," ujarnya.
Ia menambahkan, abad 21 merupakan abadnya perempuan. Ia mengatakan bahwa saatnya perempuan menjadi pemimpin. Sejauh ini, menurutnya, perempuan sendiri telah menunjukkan tajinya di dunia. "Saya lihat beberapa penerima nobel tahun ini saja ada dua perempuannya," ujar Mega yang didampingi Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua DPD Irman Gusman, serta jajaran pimpinan DPD dan MPR lainnya.
Ia pun mendorong perempuan Indonesia untuk masuk dunia politik. Menurutnya, stigma bahwa perempuan harus berada di belakang pria itu salah. Ia mengatakan, Islam pun mengajarkan perempuan untuk menjadi pemimpin. "Jadi, salah kalau orang bilang dalam Islam perempuan itu harus di belakang," tuturnya.
Lomba cerdas cermat Pancasila ini sendiri diikuti oleh sejumlah SMA se-Indonesia. Tampil sebagai juara pertama adalah SMA Titian Teras Jambi, sedangkan juara kedua SMAN 1 Wonosobo, Jawa Tengah, dan juara ketiga SMAN I Gunung Talang, Sumatera Barat.
FEBRIYAN





