Kendaraan terjebak kemacetan akibat penyempitan jalur lambat yang digunakan untuk pembangunan saluran air di Jalan Jend.Sudirman, Jakarta, Jumat (21/10). TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Topik
Atasi Macet karena Gorong-gorong, Koridor Busway pun Dikorbankan
TEMPO.CO, Jakarta - Polisi terpaksa membuka untuk umum jalur bus Transjakarta koridor I agar bisa mengatasi kemacetan lalu lintas di Jalan Sudirman. Jalur yang dibuka itu mulai Bundaran Senayan hingga Bundaran Hotel Indonesia.
"Baik yang mengarah ke Blok M maupun ke arah Hotel Indonesia bisa digunakan kendaraan pribadi," kata Kepala Urusan Teknologi dan Informasi Traffic Management Center Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Ajun Komisaris Tri Wibowo.
Kepala Subdirektorat Keamanan dan Keselamatan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Yakub Dedi Karyawan, mengatakan pembukaan jalur koridor I itu hanya diskresi (kewenangan melanggar aturan demi kepentingan publik). Langkah tersebut dianggap bisa menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi kemacetan akibat perbaikan gorong-gorong di Jalan Sudirman.
Menurut Yakub, penggunaan jalur koridor I untuk umum itu hanya berlangsung beberapa jam. Setelah arus lalu lintas bisa dikendalikan, jalur tersebut kembali steril. Dia menjanjikan kebijakan serupa tidak terulang di kemudian hari. "Karena koridor I merupakan percontohan koridor paling bagus, jadi akan tetap steril," kata dia.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan sterilisasi jalur Transjakarta harus tetap dijaga. Sebab, jika kendaraan umum masuk ke jalur khusus, sudah pasti pelayanan Transjakarta terganggu. "Headway antarbus akan meleset dari jadwal dan terjadi penumpukan penumpang," katanya.
Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Ajun Komisaris Besar Tomex Kurniawan mengatakan, sejak proyek perbaikan gorong-gorong dimulai pada awal Oktober ini, polisi memang kerepotan mengatasi kemacetan di Jalan Sudirman. Dia menyayangkan sikap kontraktor yang kurang berkoordinasi dengan polisi. "Dua kali kami ajak bertemu, mereka tidak pernah datang," kata Tomex.
Direktur Utama PT Idee Murni Daniel Hutapea, kontraktor proyek perbaikan gorong-gorong di Jalan Sudirman, mengatakan proses pengerjaan sudah mencapai 60 persen. "Kami kerja buru-buru karena mengejar target," katanya. Karena terburu-buru itulah, perusahaannya kurang memperhatikan kelengkapan alat-alat pengaman di lokasi proyek.
Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Novizal mengatakan, kesan buru-buru muncul karena proses lelang yang terlambat. Proses lelang seharusnya selesai pada awal tahun. Namun karena ada perubahan peraturan, akhirnya proses lelang diundur. Imbasnya, pengerjaan proyek pun akhirnya tertunda. "Kontraktor harus buru-buru agar tidak kena denda," katanya.
Edi Prayitno, salah satu mandor dalam proyek gorong-gorong itu, optimistis bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan ini. "Saya yakin tanggal 30 Oktober nanti kelar karena sudah menjadi tanggung jawab per kelompok kerja," ujar Edi.
Menurut Edi, lebih dari 10 kelompok kerja terlibat dalam proyek ini. Tiap kelompok beranggotakan 20-30 pekerja. Dia sendiri bertanggung jawab untuk gorong-gorong sepanjang 78 meter di depan pintu masuk Stadion Gelora Bung Karno.
L ARIE FIRDAUS | ARYANI KRISTANTI | EDI FAISOL | SUSENO





