Tokoh animasi South Park. Kyle (kiri), Kenny dan Stan. AP/Comedy Central
Topik
Pilih-pilih Kartun demi Anak
TEMPO.CO, - Meski sudah lebih dari tiga bulan menjadi murid Sekolah Dasar Tunas Iblam di Depok, Cikal Zarkasih sering terlambat masuk sekolah. Rupanya kebiasaannya menonton film-film kartun di salah satu stasiun televisi swasta tak berubah. Sejak bangun tidur, pukul 05.30 WIB, bocah 6 tahun ini sudah berada di depan televisi menyimak Dora, Shaun the Sheep, ataupun SpongeBob.
"Gimana nggak telat, dia baru akan beranjak dari depan TV menjelang pukul 7," ucap Herawati, 34 tahun, sang ibu, mengeluh. Ketika masih di taman kanak-kanak perilaku menonton film kartun tak terlalu menjadi masalah karena masuk sekolah pukul 8 dan tidak setiap hari. Nah, ketika di SD, selain harus masuk tiap hari, jam masuknya persis pukul 07.00.
Masalah lain yang membuat Herawati cemas, Cikal senang bermain pukul-pukulan, baik dengan adiknya maupun teman-teman di sekolahnya. "Kalau ada permainan atau suatu pekerjaan yang sulit, dia selalu bilang, coba ada Doraemon, pasti beres," kata ibu tiga anak yang sehari-hari menjadi anggota staf administrasi di sebuah rumah sakit swasta di Depok itu.
Lain lagi dengan Erly Zanata, 32 tahun. Ia menilai film-film kartun di TV swasta nasional memang kurang baik bagi perkembangan mental anak-anak. Karena itu, dia memilih memutar film-film dari salah satu televisi berbayar.
Selain lebih terjamin materinya, penggunaan bahasa Inggris justru memberi efek positif bagi putra sulungnya, Rainar Raya, 6 tahun. "Penguasaan kosa kata dia cukup baik, dan mampu menggunakan beberapa frase dengan pas," ujarnya.
Psikolog A. Kasandra Putranto menyatakan anak-anak yang terlalu sering menonton kartun tanpa pendampingan orang tua memang bisa membawa dampak buruk bagi perkembangan sang anak. "Banyak kartun yang isinya tidak tepat bagi anak-anak," katanya.
Dia mencontohkan film Teletubbies yang sesungguhnya bisa membawa anak pada kekacauan dalam memahami gender. Ini disebabkan oleh tidak adanya kejelasan gender tiap karakter dalam tayangan itu.
"Tinky Winky, yang seolah karakternya laki-laki, ke mana-mana selalu bawa tas perempuan. Begitu juga karakter Dipsy, Laa Laa, dan Po, jenis kelaminnya tidak jelas," ujarnya.
Banyak film kartun yang juga tidak tepat jadi tontonan anak-anak karena mempertontonkan kekerasan, ucapan, dan perilaku kasar, bahkan pornografi. Kartun Tom & Jerry, misalnya. Kartun dengan tokoh kucing dan tikus ini, kata Kasandra, kerap mempertontonkan kekerasan. "Kalau enggak suka, kemplang. Enggak suka, bakar," kata juru bicara Ikatan Psikologis Klinis itu.
Di luar masalah konten tayangan kartun, sebenarnya kebiasaan anak-anak menonton televisi juga bisa berpengaruh buruk bagi perkembangannya. Pengaruh televisi pada anak di bawah umur 2 tahun, kata dia, anak akan lebih tertarik pada dunia dua dimensi, yakni video dan audio.
Bayangkan bahayanya anak-anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan yang membutuhkan pengenalan dunia lima dimensi, tapi dipaksa hanya dua dimensi. "Ini akan membuat anak kehilangan minat untuk mengasah kemampuan motoriknya, seperti mengecap, membaui, serta kemampuan lainnya," ujar Kasandra menjelaskan.
Dampak lanjutannya adalah anak bisa saja tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Bahkan bisa saja perilakunya menjadi antisosial. Untuk mengurangi dampak buruk tayangan kartun, Kasandra menyarankan agar orang tua memilihkan tayangan yang sesuai dengan usia anak.
"Selain itu, kata kuncinya adalah pendampingan orang tua," ujarnya. Pendampingan perlu dilakukan untuk memberi pengertian kepada anak tentang tayangan yang sedang ditontonnya.
Global TV sejak 2006 menjadikan film-film kartun sebagai tayangan utama. Setiap hari ada sembilan judul film, seperti SpongeBob, Dora, Bernard Bear, Tom & Jerry Kids, serta Glumpers, yang ditayangkan pagi dan sore dengan total durasi tujuh jam. "Rating-nya bagus, apalagi saat-saat libur sekolah bisa ditayangkan berulang-ulang tanpa menimbulkan kejenuhan karena sifatnya yang menghibur," kata Idham Azka, Corporate Secretary Department Global TV.
Soal munculnya keluhan dari orang tua, ia menyatakan Global selalu siap mendiskusikan dan mengevaluasinya bersama. "Namun sejauh ini tidak ada masalah berarti," ujarnya.
l AMIRULLAH | DIANING SARI






