foto

Ilustrasi. TEMPO/Aditia Noviansyah

Provinsi Jambi Tangkal Tayangan Negatif Televisi dan Radio  

TEMPO.CO, Jambi - Pemerintah Provinsi dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jambi, Minggu, 30 Oktober 2011, mencanangkan gerakan menonton sehat dan pendengar santun (gemas-pedas).

Acara pencanangan yang dilakukan Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Syahrasaddin, di halaman depan kantor Gubernur Jambi tersebut dihadiri ratusan pelajar dan masyarakat umum.

Syahrasaddin menyatakan tayangan televisi dan siaran radio saat ini telah didominasi oleh kekuatan pasar tanpa memperhatikan persoalan moral dan etika karena menyuguhkan kekerasan, mistik, hal-hal yang konsumtif, bahkan eksploitasi seks hingga pornografi.

Tayangan televisi dan radio yang lebih mementingkan pasar, kata Syahrasaddin, berdampak pada degradasi moral dan etika bangsa. Masyarakat pun tak bisa menghindarinya akibat kemajuan teknologi penyiaran meski secara nyata telah mengalahkan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Provinsi Jambi yang bertekad mewujudkan program Jambi EMAS (Ekonomi Maju, Aman, Adil dan Sejahtera) 2015 membutuhkan sumber daya manusia yang andal. Itu sebabnya televisi dan radio harus mampu memberikan kontribusi melalui siaran yang positif dan mendidik.

Namun, kata Syahrasaddin pula, upaya pemerintah melahirkan sumber daya manusia berakhlak mulia, sehat, cerdas, dan produktif semakin berat. Tantangannya, terutama di era globalisasi ini, antara lain derasnya arus informasi yang tanpa batas dan bersifat lintas negara. Berbagai media, baik cetak maupun elektronik, tidak hanya membawa pengaruh positif tapi juga dampak negatif.

Melalui pedas-gemas diharapkan masyarakat Provinsi Jambi lebih jeli memilih tontonan di televisi ataupun siaran radio, termasuk memilah-milah sajian media cetak dan elektonik. ”Dengan demikian masyarakat dapat terhindar dari tayangan kurang bermutu dan merugikan,” kata Syahrasaddin.

Masyarakat Jambi juga harus berani mengawasi dan melaporkan kepada KPID bila menemukan tayangan yang melanggar etika. Orang tua pun harus secara ketat mengawasi dan mendampingi anak-anaknya saat menyaksikan siaran televisi.

Ketua KPID Provinsi Jambi, Arwani, menjelaskan gemas-pedas dimaksudkan agar masyarakat semakin cerdas menentukan suguhan televisi dan radio yang layak dinikmati. ”Di beberapa daerah tayangan dan siaran yang tidak mendidik telah menimbulkan korban, seperti ditirunya adegan kekerasan oleh anak-anak yang belum dapat mencerna apa yang ditontonnya,” ujarnya.

Salah seorang warga Jambi, Ahmad Fikri, 50 tahun, mengaku senang dengan adanya gemas-pedas. ”Anak-anak dan generasi muda Jambi harus bisa menghindarkan diri dari tontotan yang tidak mendidik agar bisa tumbuh sesuai dengan harapan.”

SYAIPUL BAKHORI