Seorang pria menggunakan ponsel di depan grafik harga saham di Bursa Efek Yunani di Athena, Selasa (4/10). Indeks saham Athena ditutup negatif 6,28 persen, karena turun serendah 7,1 persen dikurangi sore hari sementara pasar Eropa utama turun lebih dari 3 persen. AP Photo/Thanassis Stavrakis
Infografis
Kuartal Ketiga, Pendapatan Indosat Naik Tipis
TEMPO.CO, Jakarta - PT Indosat Tbk membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 15,36 triliun hingga kuartal ketiga 2011. Pendapatan emiten berkode ISAT ini naik tipis, 3,5 persen, dibandingkan periode sama tahun lalu.
Direktur Utama Indosat Harry Sasongko mengatakan, pendapatan diperoleh dari pendapatan seluler sebesar Rp 12,59 triliun dan pendapatan nonseluler Rp 2,77 triliun. "Layanan seluler, data tetap dan telepon tetap Indosat masing-masing memberikan kontribusi besar 81,9 persen, 12 persen, 6,1 persen," ujar Harry di kantornya, Senin, 31 Oktober 2011.
Ia menjelaskan pendapatan seluler meningkat 4,8 persen. Ini karena adanya peningkatan jumlah pelanggan sebesar 29,9 persen meski pendapatan rata-rata bulanan per pelanggan (ARPU) sebesar 16,6 persen.
Selain itu, pendapatan data tetap naik 1,4 persen yang disebabkan oleh meningkatnya penggunaan sirkit untuk layanan non-IP. Untuk pendapatan telepon tetap Indosat menurun 7,9 persen akibat menurunnya pendapatan sambungan langsung internasional.
Pendapatan telepon tetap ini menurun karena trafik percakapan berasal dari pelanggan non-Indosat serta tekanan terhadap tarif incoming. Apresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat juga mempengaruhi pendapatan.
Sementara itu, beban usaha yang meningkat 6,1 persen dari Rp 12,3 triliun menjadi Rp 13,05 triliun membuat laba usaha Indosat menurun 9,2 persen menjadi Rp 2,3 triliun pada September 2011 dari Rp 2,54 triliun pada September 2010.
Meski laba bersih perusahaan melesat 86,9 persen menjadi Rp 992 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 530,9 miliar, Harry menjelaskan, melesatnya laba bersih disebabkan adanya pengurangan beban lain-lain hingga 49 persen dibandingkan September 2010 dari Rp 1,67 triliun pada tahun lalu menjadi Rp 850,2 miliar.
Itu diantaranya disebabkan meningkatnya laba perubahan nilai wajar derivatif sebesar Rp 90 miliar, pengurangan beban pendanaan sebanyak 22,2 persen menjadi Rp 1,36 triliun, dan dihentikannya amortisasi goodwill akibat Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan Nomor 22.
Sampai saat ini, total utang Indosat mencapai Rp 21,64 triliun. Komposisi utang perusahaan 48,5 persen di antaranya dalam bentuk pinjaman dan 51,5 persen dalam bentuk obligasi. Sementara komposisi mata uang dari total utang dalam rupiah sebesar 42,7 persen dan dalam dollar Amerika Serikat 57,3 persen.
Ini telah berkurang 10 persen dari posisi utang per 31 Desember 2010 sebesar Rp 24,06 triliun. Pada tahun ini, Harry mengatakan, pembayaran utang mencapai US$ 200 juta. Sedangkan pada tahun depan, dia menargetkan pembayaran utang sebesar US$ 300 juta atau naik 30 persen pembayaran pada tahun ini.
Dalam kurun waktu satu tahun mendatang, ujar dia, total utang Indosat yang jatuh tempo mencapai Rp 2,37 triliun dan US$ 212,5 juta. "Jatuh tempo rata-rata utang Indosat adalah 4,6 tahun pada 30 September 2011," jelasnya.
Pada kuartal keempat mendatang, Harry mengatakan, pertumbuhannya tidak akan sama dengan pertumbuhan kuartal ketiga tahun ini. Karena menurutnya, faktor Lebaran sudah selesai pada kuartal ketiga. "Tapi kami berharap dapat lebih baik dibandingkan tahun lalu," kata Harry.
SUTJI DECILYA





