Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Ari Saptari Hudaya dan Direktur Dileep Srivastava saat Public Expose Insidentil di Wisma Bakrie, Jakarta, (13/10). BNBR menggelar penawaran terbuka penjualan sejumlah saham lima anak usahanya. TEMPO/Nickmatulh
Infografis
Bakrie & Brothers Masih Utang Rp 5,5 Triliun
TEMPO.CO, Jakarta - Kerja sama PT Bakrie & Brothers Tbk dengan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk untuk memiliki saham di Bumi Plc otomatis mengurangi utang perusahaan secara konsolidasi. Bakrie & Brothers mencatat posisi utang per Juni 2011 mencapai Rp 10,2 triliun.
"Dengan mendapatkan uang segar dari kerja sama ini utang akan berkurang menjadi Rp 5,5 triliun," kata Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Suparno pada pertemuan pers di Jakarta, Selasa 1 November 2011.
Angka persisnya, kata Eddy, perusahaan harus menunggu laporan keuangan di akhir tahun ini. "Di akhir Desember dapat terlihat posisi utang kami sebenarnya," ujar dia.
Eddy mengatakan kerja sama dengan Borneo Lumbung Energi senilai US$ 1 miliar akan dipakai sepenuhnya untuk membayar utang ke Credit Suisse AG yang total utangnya mencapai US$ 1,345 miliar.
Adapun sisa utang Bakrie & Brothers ke Credit Suisse jika hanya membayar US$ 1 miliar, menurut Eddy, akan dibicarakan kembali dengan kreditor. "Sekarang sedang berjalan prosesnya. Mudah-mudahan bisa lebih mudah karena kami akan membayar US$ 1 miliar," ujar dia lagi.
Bakrie & Brothers dan Borneo Lumbung Energi sepakat memiliki saham bersama sebesar 47,6 persen di Bumi Plc, anak usaha Bakrie & Brothers yang tercatat di Bursa Efek London. Dengan masuknya Borneo di Bumi Plc sebesar 23,8 persen, menurut Eddy, saham Bakrie Brothers terpangkas menjadi 20,5 persen. Sedangkan sisanya dikuasai oleh grup Bakrie lainnya, Long Haul Holdings.
SUTJI DECILYA | ERWINDAR





