foto

TEMPO/Imam Sukamto

Rupiah Melemah 6 Poin

TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah seiring kembali mencuatnya kekhawatiran para pelaku pasar terhadap krisis utang Eropa. Pemerintah Yunani yang berencana akan melakukan referendum untuk memutuskan bantuan dari Uni Eropa menimbulkan ketidakpastian baru dipasar.

Dalam transaksi pasar uang hari ini Rabu, 2 November 2011, ditutup kembali melemah 5poin (0,06 persen) ke level 8.950 per dolar Amerika Serikat (AS). Terapresiasinya dolar AS terhadap mata uang utama membuat rupiah dan mata uang Asia lainnya kembali melemah.

Pengamat pasar uang dari PT Platon Niaga Berjangka, Hendra Guanwan menjelaskan, sentimen negatif dari faktor global yang memicu terapresiasinya dolar AS membuat rupiah kembali melemah.

Kecemasan terhadap pelambatan ekonomi seiring mencuatnya krisis utang Yunani membuat para pelaku pasar kembali memegang posisi beli dolar AS. “Hal ini membuat dolar AS tetap digdaya terhadap mata uang utama dunia,” kata Hendra.

Jika dilihat fundamental makroekonomi domestik masih sangat mendukung bagi penguatan rupiah. Namun, karena saat ini faktor eksternal sangat dominan membuat penguatan rupiah masih sulit.

Sebenarnya fundamental ekonomi Amerika saat ini masih rapuh sehingga tidak mencerminkan nilai dolar yang sebenarnya. Secara valuasi sebenarnya dolar AS over value (terlalu mahal). Suatu saat bom waktu dari besarnya utang AS pasti akan meledak sehingga dapat membebani mata uang Negeri Paman Sam. “ Digunakan sebagai referensi perdagangan global yang membuat dolar AS masih mampu bertahan hingga saat ini,” dia memaparkan.

VIVA B. KUSNANDAR