Seorang pria menggunakan ponsel di depan grafik harga saham di Bursa Efek Yunani di Athena, Selasa (4/10). Indeks saham Athena ditutup negatif 6,28 persen, karena turun serendah 7,1 persen dikurangi sore hari sementara pasar Eropa utama turun lebih dari 3 persen. AP Photo/Thanassis Stavrakis
Topik
Infografis
Referendum Yunani Sengat Saham Wall Street
TEMPO.CO, New York - Saham di bursa Wall Street kembali rontok setelah penyelamatan Yunani kembali berada dalam keraguan. Langkah pemerintah Yunani yang akan melakukan referendum untuk penyelesaian krisis utang membuyarkan harapan para investor yang telah dibangun dua pekan lalu.
Indeks Dow Jones terjun hampir 300 poin karena para investor bereaksi terhadap berita perkembangan krisis utang Yunani yang telah berlangsung lama. Obligasi Amerika Serikat (Treasury) dan aset lainnya yang dianggap sebagai safe haven kembali melonjak.
Saham perbankan bursa New York, seperti Citigroup dan JPMorgan Chase, terpukul sangat dalam setelah dilanda tekanan jual seiring bergejolaknya pasar Eropa. Indeks saham bursa Italia anjlok 6,8 persen, bursa Prancis jatuh 5,4 persen, serta bursa Jerman juga merosot 5 persen. Hal ini memicu dolar AS dan harga obligasi melompat tinggi yang membuat para analis tercengang.
Dalam perdagangan semalam, indeks saham utama Dow Jones anjlok 297,05 poin (2,48 persen) ke level 11.657,96. Indeks saham teknologi Nasdaq juga merosot 77,45 poin (2,89 persen) menjadi 2.606,96 serta indeks S&P 500 juga jatuh 35,02 poin (2,79 persen) menjadi 1.218,28.
Apa yang terjadi di pasar obligasi mencerminkan kekhawatiran bahwa gejolak di Negeri Para Dewa ini akan merusak sistem keuangan Eropa yang akan menciptakan krisis di seluruh Eropa. "Hal ini membuat semua kekhwatiran tentang Eropa kembali mencuat," kata Scott Brown, kepala ekonom dari Raymond James. "Jika semua ini berakhir dan berubah menjadi bencana keuangan Eropa, maka tidak akan ada yang bisa menghindarinya," tutur Brown.
Perdana Menteri Yunani secara tidak terduga hari Senin lalu mengatakan bahwa ia akan melakukan pemungutan suara nasional untuk melakukan rencana penyelamatan krisis Eropa, untuk pertama kalinya sejak tahun 1974. Rencana penyelamatan krisis tersebut mengharuskan bank yang memegang obligasi Yunani untuk menerima kerugian sebesar 50 persen yang dimilikinya untuk membantu ekonomi negara tersebut dari ancaman kebangkrutan.
Para kreditur internasional menuntut agar Yunani memberlakukan kenaikan pajak dan pemotongan program-program kesejahteraan masyarakat sehingga menuai protes dan pemogokan dari masyarakat.
"Pasar saham telah mengekspresikan rasa muaknya terhadap politik Yunani dan berkurangnya keyakinan bahwa Italia dan Spanyol dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi agar dapat membayar utang mereka," ujar Peter Boockvar, ahli strategi ekuitas dari Miller Tabak & Co.
Di pasar obligasi, imbal hasil untuk Treasury dengan tenor 10 tahun harganya naik sehingga imbal hasilnya merosot menjadi 1,96 persen dari posisi sebelumnya 2,16 persen di hari Senin lalu. Sedangkan untuk tenor 30 tahun, imbal hasilnya juga turun dari 3,38 persen menjadi 2,96 persen. Sedangkan dolar AS menguat menjadi US$ 1,36 dari posisi sebelumnya di US$ 1,38. Kepala strategi pendapatan tetap dari Janney Montgomery Scott mengemukakan, ini adalah perubahan terbesar yang pernah saya lihat dalam karier saya.
Imbal hasil obligasi Italia melonjak 48 persen menjadi 5,17 persen ke level tertingginya tahun ini, mengindikasikan bahwa kekhawatiran krisis utang Yunani bisa menyebar ke negara-negara Uni Eropa lainnya yang mempunyai perekonomian lebih besar.
AP | VIVA B. KUSNANDAR





