foto

Di akhir pekan pun para pebisnis masih bisa melakukan pertemuan seperti hari-hari kerja lainnya bahkan dengan tarif yang istimewa.

Dituduh Sering Menyuap, Ini Tanggapan Pebisnis

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Crhis Kanter meragukan validitas survei Transparancy Internasional (TI) terkait peringkat pebisnis Indonesia yang paling sering memberi suap di luar negeri. "Saya bingung karena tidak dijelaskan di negara mana pengusaha kita melakukan praktik itu," kata Chris, Selasa 2 November 2011.

Menurut dia, survei tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh pengusaha. Apalagi menurutnya, banyak negara yang sangat memiliki aturan ketat dan memungkingkan praktik itu tidak bisa terjadi. Dia mencontohkan di negara-negara Eropa, Amerika, dan Singapura praktek suap sulit dilakukan.

Seharusnya TI melansir nama negara yang ditengarai tempat pengusaha Indonesia melakukan suap. Tak hanya itu, TI juga mengungkapkan modus penyuapan yang dilakukan. Dia meminta, masyarakat Indonesia jangan terjebak dengan angka. Chris mengatakan, boleh jadi survei dilakukan di satu negara yang kebetulan investornya paling banyak dari Indonesia. "Jelas hasil surveinya negara kita terbanyak padahal hanya di satu negara saja."

Menurut Chris, pengusaha Indonesia tidak begitu suka melakukan investasi di luar negeri. Pengusaha nasional lebih banyak bermain di dalam negeri. Sayangnya, dia tidak memiliki data pasti jumlah pengusaha Indonesia yang ekspansi ke luar negeri.



Jika benar para pengusaha melakukan suap, menurut dia, kemungkinan besar terjadi di negara yang hukumnya lemah. "Survei itu tidak penting buat saya. Yang penting adalah bagaimana perbaikan pengusaha dalam negeri dulu yang dibenahi."



Tapi Chris mengakui, praktik suap masih kerap dilakukan pengusaha dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia. "Kami masih prihatin dengan kondisi sepeti itu di dalam negeri karena masih ada yang terjadi."



ABDUL RAHMAN | ERWINDAR