AP/Emilio Morenatti
Topik
Infografis
Demi Blogger, Warga Mesir Turun ke Jalan
TEMPO.CO, KAIRO -- Tak kurang dari 3.000 warga Mesir turun ke jalan kemarin di Tahrir Square-pusat perlawanan yang menjungkalkan Presiden Hosni Mubarak tahun ini-setelah seorang aktivis ditahan oleh para jaksa militer. Mereka mendukung keputusan aktivis itu yang menolak ditanyai oleh jaksa militer karena dinilai tak punya urusan menginterogasi warga sipil. Massa juga mendesak dewan militer sementara yang berkuasa agar turun.
Militer menahan Alaa Abd El Fattah pada Ahad lalu. Dia blogger ternama yang pernah menjadi tahanan politik di era Mubarak pada 2006. Abd El Fatah menolak ditanyai oleh para jaksa militer atas tuduhan "penghasutan kekerasan dan sabotase" dalam kaitan dengan bentrokan berdarah antara tentara dan demonstran pada 9 Oktober lalu yang menewaskan 25 orang. Dia bilang tentara tidak punya legitimasi menginterogasinya dan hanya mau berbicara dengan pejabat sipil.
Alaa Abd El Fattah, 29 tahun, adalah aktivis garda depan dalam perjuangan antirezim selama satu dekade terakhir. Kini dia mendekam di tahanan selama 15 hari, yang bisa diperpanjang oleh pemerintah.
Kandidat presidensial, Abdel Moneim Aboul Fotouh, kemarin mengecam penahanan itu sebagai "sebuah kemunduran besar bagi revolusi Mesir". Pada saat yang sama, sejumlah kelompok aktivis-termasuk gerakan 6 April yang berpengaruh-langsung mengumumkan kebijakan total non-kerja sama dengan para penuntut militer, menempatkan mereka berseberangan dengan para jenderal yang berkuasa.
El Fattah datang dari salah satu keluarga yang terkenal kiri, juga anggota sebuah elite di Kairo selama beberapa generasi. Dia dan istrinya, Manal--yang tengah mengandung anak pertama mereka-membantu perintisan ruang di dunia maya yang melawan kediktatoran Mubarak. Sejak terjungkalnya Mubarak, seperti revolusioner lain, El Fattah memusatkan perhatian kepada junta, yang sebelumnya berjanji mempertahankan revolusi Mesir dan membantu negara menuju pemerintahan sipil yang demokratis.
Seusai kerusuhan pada 9 Oktober Abd El Fattah termasuk yang bersuara keras menentang keterlibatan militer, yang dikonfirmasi oleh sejumlah laporan saksi dan video. Dia lalu dipanggil ke Kairo C28, yang terkenal menjadi markas para penuntut militer. Lebih dari 12 ribu warga sipil diyakini diseret ke pengadilan militer.
"Mereka (militer) melakukan suatu pembantaian, kejahatan mengerikan, dan sekarang membidik seseorang untuk itu," tutur Abd El Fattah pada Ahad lalu saat digelandang ke C28. Sekitar selusin pendemo mengalami tuduhan serupa, termasuk Mina Daniel, yang tewas pada kerusuhan pada 9 Oktober.
| The Guardian | News 24 | Al Ahram | Dwi Arjanto





